Skip to main content
5G Networks

Jaringan Masa Depan: Kiat 5G Jalankan Aplikasi Industri Yang Efisien

July 01, 2021
header-image

Membangun ladang angin baru merupakan cara paling efektif untuk menyalurkan energi terbarukan dalam jumlah yang lebih besar ke rumah dan sektor usaha. Namun, bagaimana seandainya Anda bisa mendapatkan lebih banyak lagi tenaga listrik dari turbin angin yang sudah berputar di ladang angin? Untuk tujuan itu, Anda butuh lebih banyak informasi. “Tujuan utama dari penggunaan turbin angin adalah efisiensi,” kata Eric Tucker, senior director of technical products di GE Research. “Semakin banyak angin yang ditangkap, semakin banyak energi yang dihasilkan.”

Meski demikian, memperoleh efisiensi tambahan seperti itu bukan tugas yang mudah. Pertama-tama, Anda butuh teknologi yang dapat secepatnya mengumpulkan informasi tentang kinerja masing-masing turbin. GE Renewable Energy sudah memantau seluruh armada turbin, dan, sebagai contoh, rekan-rekan Tucker di GE Research sudah mencari jalan untuk memasukkan lebih banyak sensor di dalam mesin-mesin tersebut. Saat ini GE tengah melakukan tugas barunya: Mereka merancang jaringan nirkabel 5G yang membuat para operator ladang angin dapat mengakses data dengan lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak daya listrik dari turbin-turbin mereka.

Tentu, 5G merupakan tahapan berikutnya dalam komunikasi nirkabel. Berpindah dari jaringan 4G yang ada saat ini ke sistem 5G ibaratnya menukarkan mobil rongsok Anda dengan mobil sport. Jaringan 5G yang sudah bermunculan di seluruh dunia dapat meningkatkan kecepatan 10 hingga 100 kali lebih cepat dari teknologi 4G. Jaringan 5G juga dapat menjadi lebih aman dan andal, lebih irit energi dan lebih sedikit mengalami penundaan. Jaringan 5 G dapat melayani ribuan pengguna dan perangkat pada saat yang sama, dengan penurunan kinerja yang lebih sedikit, baik penggunanya berada di dalam ruangan ataupun di luar ruangan.

Salah satu versi dari teknologi ini, khususnya ultra-wideband 5G, dapat membawa transformasi pada banyak perusahaan. Teknologi ini memungkinkan terjadinya komunikasi jarak pendek dan high-bandwidth, serta mampu mengumpulkan data dengan cepat dan andal dari turbin angin dan bahkan mesin jet ketika pesawat tiba, memperlancar proses terjadinya perawatan yang bersifat prediktif dan cerdas. Teknologi ini dapat memunculkan komunitas cerdas, mobil yang terkoneksi, operasi bedah oleh robot dan sebagainya.

SM Hasan, 5G mission leader di GE Research, mengatakan kombinasi dari kecepatan, skala dan waktu respons yang hampir instan itulah yang berpotensi menghantar pengoperasian dan pengelolaan aset dan sistem industri ke tingkat kinerja yang sama sekali baru. “Kecepatan jaringan dan kapasitas jaringan 5G yang lebih superior membuat kita mampu sepenuhnya mengambil manfaat dari adanya banyak teknologi digital demi mentransformasikan aset dan pengoperasian industri kita,” tambah Hasan. “Dari AI dan machine learning hingga digital twins dan teknologi otonom, 5G dapat mempercepat langkah di berbagai hal, yakni dari mobil tanpa sopir dan kesehatan digital hingga ke jaringan energi yang lebih andal dan tangguh, yang digerakkan oleh aset energi yang lebih bebas karbon, seperti ladang angin pintar.”

Para ilmuwan di Research Lab milik GE sudah mengembangkan teknologi yang terkait dengan 5G selama setengah dasawarsa. Mereka sudah menggunakannya untuk, misalnya, merancang gudang yang memiliki manajemen persediaan instan, atau mengembangkan perangkat augmented reality yang membuat seorang operator jarak jauh dapat melihat arah gerak dari sebuah forklift.

Namun, baru akhir-akhir inilah sebagian besar karya penelitian itu terjadi di luar laboratorium. Dalam satu peristiwa, para teknisi GE harus bolak-balik memeriksa sebuah fasilitas sambil memegang telepon genggam dan mengukur kekuatan signal di dekat sensor. “Bagaimana caranya aku bisa menjadikan ini hampir real-time dan menyeluruh? Sungguh sulit, karena lingkungannya benar-benar tidak memiliki konektivitas,” kata Ben Verschueren, growth leader di Forge Lab milik GE (lihat video di bawah ini).

Semua itu akan berubah. Minggu lalu, GE Research dan Verizon bermitra untuk mengembangkan perangkat uji coba 5G di Forge Lab di GE Research di Niskayuna, New York. Pada perangkat itu akan dipasangkan antena radio 5G yang terkoneksi dengan jaringan radio access network (RAN) yang kuat. Perangkat itu akan membuat para peneliti mampu merancang dan menguji teknologi berbasis 5G yang dapat dipakai di bidang perawatan kesehatan, transportasi, energi dan berbagai industri lainnya.

Tujuannya adalah untuk memperbaiki efisiensi dan memungkinkan dilakukannya pemantauan real-time pada komponen-komponen mesin, seperti bilah turbin angin dan pasien yang sedang dalam proses pemulihan dari operasi bedah di rumah sakit atau di rumah. “Teknologi ini membawa transformasi pada model bisnis, seperti pada cara kerja perangkat perawatan kesehatan dan pada cara pasien berinteraksi dengan dokternya,” kata Verschueren. 

Di bidang penerbangan, 5G dapat memungkinkan penggunaan perangkat augmented reality yang memberikan informasi kontekstual kepada tenaga bagian perawatan tentang keadaan mesin atau status perbaikan, bahkan membuat mereka mampu menghadirkan seorang pakar dari jarak jauh untuk membantu menjawab sejumlah pertanyaan terkait perawatan. “Di GE, kami memiliki rekam jejak dalam melakukan disrupsi pada industri, serta menjadi pembentuk pasar di dalam sebuah industri yang sudah matang,” kata Tucker. “5G adalah pembawa disrupsi industri [yang besar] sebagaimana yang dilakukan oleh pembawa disrupsi digital lainnya dalam waktu 20 tahun terakhir ini.”