Skip to main content
header-image
GE Power

GE Tanda Tangan Kontrak Pertama Offshore Wind Turbine Terkuat Di Dunia

December 03, 2020

John Lavelle sudah melihat banyak mesin bertenaga besar selama hampir empat dasawarsa sebagai seorang insinyur GE. Namun, belum ada yang menyamai kekuatan Haliade-X, turbin angin lepas pantai (offshore wind turbine) bertenaga paling besar di dunia yang kini sudah beroperasi. Turbin ini memecahkan rekor dunia pada awal tahun ini ketika mampu menghasilkan daya listrik sebesar 288 megawatt-hours (MWh) dalam sehari. Daya sebesar itu cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik dari 30.000 rumah di Rotterdam, yakni lokasi prototipe pertama.

Pada hari ini turbin itu kembali membuat capaian penting: GE Renewal Energy menandatangani kontrak pertama untuk pengadaan mesin bertenaga besar tersebut. Unit Offshore Wind yang sekarang dinakhodai Lavelle sebagai CEO akan memasok 190 turbin Haliade-X 13 MW untuk Dogger Bank A dan Dogger Bank B. Itulah dua tahap pertama dari pembangunan ladang angin lepas pantai (offshore wind farm) yang akan menjadi ladang angin lepas pantai terbesar di dunia.

Ladang Angin (Wind Farm) Dogger Bank terletak di North Sea, sekitar 130 km dari pantai Yorkshire. Ladang angin tersebut merupakan perusahaan patungan antara SSE Renewables yang membangun ladang angin dan Equinor sebagai operatornya. Menurut jadwal, pembangunannya akan selesai pada 2026 dan diproyeksikan dapat menghasilkan daya listrik sebesar 3,6 gigawatt – cukup untuk memasok listrik ke 4,5 juta rumah tangga di Inggris, atau sekitar 5% dari estimasi produksi daya listrik di Inggris.

Ketika Lavelle mengambil alih kepemimpinan di unit turbin lepas pantai GE pada 2016, Haliade-X masih berupa sebuah sketsa di komputer. Saat itu, baik Lavelle maupun GE merupakan pemain yang relatif baru dalam industri lepas pantai (offshore). Saat itu, GE sedang membangun turbin angin lepas pantai yang menghasilkan listrik sebesar 6 megawatt atau setengah dari yang dapat dihasilkan Haliade-X. “Saya bukan seorang pakar turbin angin. Namun, saya tahu kami perlu membuat investasi yang sangat besar untuk menghasilkan sebuah teknologi yang tidak hanya menjadi diferensiasi GE di pasar, tetapi juga berguna bagi  industri turbin angin lepas pantai secara keseluruhan, sebuah teknologi yang dapat mengurangi biaya listrik dan dapat menjadikannya sebagai industri yang berkelanjutan untuk beberapa tahun ke  depan,” kata Lavelle.

Tim tersebut memanfaatkan keahlian GE yang sudah teruji di turbin angin onshore, termasuk keahlian di bidang pembangkit listrik, penerbangan dan industri lainnya. “Saya belajar satu hal penting dalam karir saya, yakni jangan sekali-kali meragukan  kemampuan talenta GE di bidang engineering, dalam teknologi apapun,” tegas Lavelle. “Semua ini tidak terjadi semudah yang dipikirkan oleh orang luar. Selalu saja ada hal-hal yang menarik dan menantang, dan justru kemampuan untuk mengatasi berbagai tantangan dalam perjalanan Anda itulah yang membedakan pemenang dari pecundang.”

Di GE ada Vincent Schellings, seorang veteran di industri turbin angin yang memimpin pengembangan Haliade-X. Dia berkata bahwa proyek ini sangat berbeda dengan yang pernah ditanganinya selama masa karirnya. Mesin itu begitu besar tenaganya – bilah-bilah kipasnya yang dibuat oleh LM Wind Power, anak perusahaan GE Renewable Energy, masing-masing panjangnya 107 meter. Karena itulah kami harus memikirkan cara untuk memproduksi berbagai komponennya, cara mengirimkan komponen-komponen tersebut, dan cara merakit semua komponen itu,” kata Schellings. “Jadi, bukan sekedar melakukan engineering produk, namun juga melakukan engineering untuk seluruh rantai pasokan, dan ternyata itu membutuhkan lebih banyak tenaga kerja dari yang saya pikirkan sebelumnya.”

Namun semua jerih payah itu terbayarkan. Prototipe Haliade-X pertama mulai menghasilkan listrik di Pelabuhan Rotterdam pada musim gugur lalu. Pada Desember 2019, majalah Time memilih turbin tersebut sebagai salah satu penemuan terbaik pada tahun itu.

Kecepatan kerja tim untuk menjadi terdepan turut menarik perhatian industri ini. “Mengumumkan suatu mesin baru jelas beda dengan mulai membuat prototipenya, karena pembuatan prototipe menuntut adanya langkah awal yang membutuhkan upaya besar. Dengan adanya prototipe, mesin itu menjadi kenyataan,” kata Lavelle. “Kemudian, ketika mesin beroperasi dengan baik, orang pun mulai percaya. Jadi, saya berani mengatakan bahwa suatu produk akan diterima baik oleh pasar bila kita mengumumkannya, tapi orang masih akan berkata, ‘Baiklah, tunjukkan buktinya. Apakah Anda bisa melanjutkannya?’ Itu menjadi tanda tanya besar di benak banyak orang. Kemudian, ketika prototipe muncul, pasar berkata, ‘Hebat, mereka berhasil’.”

Prototipe yang berfungsi dengan baik membuat GE mampu melakukan lompatan besar ke depan bagi kepentingan pelanggan, kata Lavelle. “Bayangkan, kami mempelajari segala sesuatu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah turbin berkapasitas 12 megawatt dengan ukuran sebesar ini. Kami butuh beberapa tahun untuk mempelajari hal yang akan memberikan manfaat kepada pelanggan kami,” katanya. “Kami butuh waktu dua tahun untuk membuat mesin raksasa ini dan setahun untuk menguji coba prototipenya. Semua hal yang kami pelajari dalam jangka waktu tersebut membuat kami semakin mampu untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.”

Rotterdam port

Atas: Protipe pertama Haliade-X mulai membangkitkan listrik pada musim gugur lalu di Pelabuhan Rotterdam. Pada Desember 2019, majalah Time memilih turbin jenis ini sebagai salah satu penemuan terbaik sepanjang tahun. Foto di atas: gambar prototipe Haliade-X 13 MW dilihat dari North Sea. Kredit foto: GE Renewable Energy.

Meski prototipe sudah beroperasi dan telah menerima penghargaan di awal tahun, tim kami belum selesai bekerja. Langkah berikutnya adalah pemeriksaan turbin oleh sebuah laboratorium terakreditasi, sebuah proses yang disebut sertifikasi tipe (type certification). Tugas dengan dua tahapan ini mencakup evaluasi dan penilaian menyeluruh atas prototipe tersebut dan semua komponen turbin, termasuk pemeriksaan desain, pengujian regimen dan proses manufaktur. 

Pada Juni, DNV GL, sebuah badan sertifikasi global independen yang berkantor pusat di Norwegia memberikan sertifikasi tipe sementara kepada GE. Sertifikasi tipe tersebut memvalidasi bahwa mesin ini telah memenuhi standar tertinggi untuk keselamatan dan kualitas. GE berharap menerima sertifikasi lengkap pada akhir tahun ini. “Banyak buktinya bahwa tim kami telah bekerja keras agar pelanggan tidak hanya suka nilai ekonominya di atas kertas, tapi juga berani memberikan kepercayaan kepada tim kami dan berkata, ‘Saya mau menandatangani kontrak’,” kata Lavelle. “Sekarang mereka mengandalkan kami untuk melakukan pekerjaan demi keberhasilan mereka.”

Haliade Blade

Foto di atas: Bilah Kipas Haliade-X 13 MW produksi LW Wind Power, anak perusahaan GE Renewable Energy, yang masing-masing berukuran 107 m. Kredit foto: LM Wind Power. 

Hasil pemeriksaan dan pengujian menunjukkan bahwa turbin dapat bekerja melampaui target awal pembuatannya. GE merancang Haliade-X yang pertama untuk membangkitkan daya listrik sebesar 12 megawatt, tapi mesin yang dikirim ke Dogger Bank akan menghasilkan  daya listrik sebesar 13 megawatt. “Ketika sedang merancang, kami sering bertanya pada diri sendiri, ‘Bagaimana kami dapat membuat Dogger Bank lebih kompetitif?’” kata Schellings. Tim kami menyadari bahwa karena ladang angin berada di wilayah utara, maka temperatur lingkungan sekitar akan membuat generator bekerja secara maksimal tanpa menjadi kepanasan.  “Seluruh proses pembuatan benar-benar menjadi seperti sebuah perjalanan bagi kami,” tambah Schellings. “Di satu sisi, kami memikirkan cara terbaik untuk pembuatan turbin tersebut. Di sisi lain, kami berusaha memikirkan cara terbaik untuk memaksimalkan kemampuan desain milik kami tersebut.

Perjalanan itu belum selesai. Sekarang Lavelle, Schellings dan timnya memikirkan untuk menjadikan Haliade-X sebagai sebuah platform. Pada platform itu mereka dapat meningkatkan output dari suatu desain baru tanpa harus memulai dari awal. “Hikmah dari proses ini adalah bahwa begitu Anda menyelesaikannya, Anda juga benar-benar memahami bagaimana cara membuat produk ini,” kata Schellings. “Anda semakin mengerti keterbatasan pada rantai pasokan, keterbatasan dari berbagai bahan, semua hal inilah yang sebenarnya membantu kita untuk lebih mengerti cara melakukan transisi ke langkah-langkah berikutnya dalam perjalanan Haliade-X.”

Lavelle mengatakan bahwa  mesin yang sudah beroperasi itu memberi GE “sebuah peta jalan strategis untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dalam industri turbin angin lepas pantai. Itulah tujuan kami. Saya tidak ingin lengah.”

Kata-kata ini sangat luar biasa. Pasalnya, International Energy Agency memperkirakan bahwa kapasitas turbin angin lepas pantai global bisa meningkat 15 kali lipat pada tahun 2040 dan menarik investasi secara kumulatif sekitar 1 triliun dolar AS. GE telah meraih status sebagai pemasok utama proyek turbin angin kapasitas 5 gigawat di seluruh dunia, termasuk  dua proyek di Amerika Serikat selain Dogger Bank.

Namun sekarang, Lavelle mengatakan bahwa Haliade-X memiliki peran yang sangat penting di Inggris, negara yang bertujuan memasang turbin angin lepas pantai berkapasitas 40 gigawatts pada 2030.  Peran itu juga termasuk mendukung upaya dari pemerintah Inggris untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sampai tingkat “net-zero” pada 2020. “Dogger Bank merupakan kesempatan fantastis bagi GE untuk memperkuat posisinya di pasar turbin angin terbesar di dunia,” kata Lavelle. “Untuk mencapai tujuan itulah kami harus memperkuat basis karyawan, operasional dan pelanggan di sana.”

Lavelle menegaskan: “Keuntungan kompetitif yang berkelanjutan dengan dukungan teknologi, eksekusi yang bagus, aman dan berkualitas, akan memberikan bisnis yang luar biasa bagi Anda. Dan tim yang memulai hal ini akan terus menyimpan rasa bangga dalam hati mereka.”