Skip to main content
header-image
supply chain

Evaluasi dan Cara GE Kokohkan Supply Chain

Nabil Habayeb, Senior Vice President GE, President & CEO, GE International Markets At GE
June 10, 2021

Kegiatan lintas batas (crossing borders) berjumpalitan terdampak COVID-19. Akibatnya, banyak perusahaan mengevaluasi ketangguhan supply chain mereka, termasuk GE. Digitalisasi, kemitraan local, dan lokalisasi merupakan pendekatan yang kini aktif dilakukan GE yang menjadi kunci dalam menjalankan bisnis di masa new normal, juga lebih jauh, untuk memastikan kesiapan untuk menghadapi tantangan di masa mendatang.

Konektivitas Digital Tanpa Hambatan

Jauh sebelum pandemic, Digitalisasi sudah menjadi salah satu opsi yang tengah dikembangkan. Namun, semakin terasa urgensinya di tengah masa pandemi kini. Untuk mendukung keberlangsungan perdagangan dan rantai pasok, konektivitas digital tanpa hambatan perlu dikembangkan guna memperlancar masuknya arus informasi, persetujuan, perizinan, dan lisensi di area batas-batas negara yang hasilnya akan mengurangi waktu dan biaya.

Hal ini membutuhkan kerja sama antara sektor publik dan swata di berbagai bidang seperti; pembiayaan, pembuat kebijakan, dan pelaksanaan infrastruktur digital yang dibutuhkan. Kerja sama yang juga sudah ada sebelum pandemi, tetapi kini esensial untuk semakin kuat.

Kemitraan

Rantai pasok yang lebih tangguh tercipta melalui peningkatan kemitraan global. Di bidang perawatan kesehatan, tahun lalu ketika terjadi lonjakan permintaan ventilator, GE Healthcare memperoleh izin untuk menggunakan peralatan anestesi yang ada sebagai ventilator darurat di Australia. Hasilnya, ada tambahan sekitar 1.500 ventilator darurat dalam inventaris di negara tersebut. Hal ini tidak mungkin dapat melakukan tanpa ada kemitraan dengan pihak-pihak yang berwenang di bidang kesehatan dan pembuat kebijakan.

Di Indonesia, di saat pandemi semakin menyebar luas, turbin gas HA dikirimkan dengan tepat waktu ke proyek Jawa-1 di Cilamaya, Jawa Barat. Hal tersebut memungkan dengan adanya Kerjasama dengan mitra GE di Indonesia, juga dengan mengikuti protocol kesehatan di lapangan. Proyek ini menjadi salah satu proyek yang penting yang dapat menambah pasokan listrik lebih dari 1,7 GW ke jaringan listrik nasional, atau sama nilainya dengan jumlah pasokan ke 11 juta rumah di Indonesia.

Di sisi lain, kemitraan juga sangat mendukung terjadinya inovasi di bidang rantai pasok. Hal ini tercermin dari GE Global Innovation Barometer dimana 86% dari eksekutif senior yang dimintai pendapatnya di 10 negara percaya bahwa upaya peningkatan kemitraan antarnegara, antarindustri, dan antarsektor akan mampu mendorong munculnya inovasi.

Lokalisasi

Terakhir, hal yang berdampak paling besar dalam peningkatan ketangguhan rantai pasok adalah lokalisasi. GE sudah bertahun-tahun mengembangkan fasilitas manufaktur lokal dan regional. Di seluruh negara ASEAN, GE berinvestasi, antara lain, di sejumlah fasilitas manufaktur dan kawasan industri. Misalnya, fasilitas MRO pesawat terbang di Malaysia dan Singapura, fasilitas manufaktur generator turbin angin di Vietnam – satu-satunya fasilitas seperti itu di negara tersebut. GE Repair Solutions Singapore merupakan salah satu pusat perbaikan dan modifikasi terbesar untuk turbin F-class dan turbin gas aeroderivative. Di Vietnam, GE telah membangun pabrik multimodal/cerdas Hai Phong – satu-satunya pabrik yang mengekspor generator turbin angin di negara itu, fasilitas Dung Quat HRSG – salah satu dari dua fasilitas HRSG di seluruh dunia, fasilitas bengkel rekondisi Phu My  di Ba Ria – provinsi Vung Tau.

Melalui lokalisasi GE masih tetap berjalan dengan aktif meskipun ketika terjadi berbagai pembatasan pada pergerakan barang dan manusia. Banyaknya pekerja berkompetensi yang ada di masing-masing negara di seluruh dunia melanjutkan berbagai proyek yang sedang berlangsung, hampir tanpa hambatan sama sekali.

GE bekerja cepat untuk memberikan yang terbaik kepada pelanggan. Tenaga kerja lokal yang mumpuni sangat dibutuhkan selama pandemi dan akan tetap dibutuhkan di era pasca-COVID-19, khususnya ketika menerbangkan pekerja untuk masuk dan keluar dari berbagai fasililtas kerja menjadi sulit dilanjutkan. 

Munculnya kerja jarak jauh sudah menjadi keniscayaan yang akan terus menjadi bagian dari kondisi lingkungan kerja yang baru. Namun, tak ada kondisi kerja lain yang dapat menggantikan kondisi kerja langsung bersama customer. Itulah sebabnya harus ada keseimbangan baru yang menyeimbangkan efisiensi dan keberlanjutan kontak virtual di satu pihak, dengan pendampingan yang mengharuskan GE hadir dan melakukan kontak tatap muka di lain pihak.

Dengan terus mencermati masa depan, khususnya berdasarkan pada peristiwa yang sebenarnya sedang terjadi, bukannya pada peristiwa yang pernah terjadi atau yang kita harapkan akan terjadi, perusahaan dapat meningkatkan ketangguhan dalam mengatasi berbagai tantangan dan perubahan yang kemungkinan besar muncul di masa depan.

 

tags