- Sembilan dari 10 perusahaan melaporkan bahwa krisis ekonomi berdampak negatif terhadap kemampuan mereka berinovasi
- Para eksekutif masih menganggap inovasi sebagai kunci pertumbuhan, kesempatan kerja, serta kualitas hidup
- Pasar/wilayah yang pro-inovasi akan mencapai kinerja ekonomi yang lebih baik
- Model baru inovasi di abad ke 21 diakui
- AS, Jepang, Jerman, Cina, masih dianggap sebagai negara-negara yang paling inovatif
Fairfield, AS, 18 Januari 2012 -- GE (General Electric) hari ini mengumumkan hasil "Global Innovation Barometer", survei tahunan yang kedua, yang menunjukkan bahwa dunia usaha meyakini inovasi sebagai kunci kemakmuran, daya saing, dan penciptaan lapangan kerja. Survei ini juga menunjukkan bahwa situasi ekonomi dan politik yang tidak pasti dapat mengurangi kemampuan perusahaan untuk dapat menghasilkan inovasi yang berarti.
Perekonomian global yang terus dilingkupi ketidakpastian telah berdampak pada kemampuan perusahaan dalam berinovasi, dengan sembilan dari 10 eksekutif melaporkan semakin sukarnya mendapatkan pendanaan dari luar, maupun kecenderungan untuk menghindari risiko. 88 persen dari responden merasakan tantangan yang semakin berat dalam mengakses modal ventura, investor swasta maupun pendanaan dari pemerintah, sementara 77 persen melaporkan penurunan maupun evaluasi ulang dari kemauan perusahaan untuk mengambil risiko.
"Survei tahun ini membuktikan apa yang telah kami rasakan di pasar global, yakni ketidakpastian ekonomi saat ini merupakan tantangan bagi dunia usaha dalam berinovasi," kata Beth Comstock, senior vice president dan chief marketing officer dari GE. "Kami harap survey ini dapat membuka mata para pimpinan perusahaan agar melihat bagaimana strategi inovasi mereka menghadapi tantangan, dan bagaimana kita mendapatkan solusi. Inovasi adalah motor penggerak yang dapat memenuhi kebutuhan dunia yang terus tumbuh. Inovasi memungkinkan kita menggunakan sumber daya dengan lebih efisien, memroduksi dengan lebih sedikit material, dan menciptakan teknologi yang lebih baik untuk mendukung pasar-pasar dunia menumbuhkan perekonomiannya serta meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya."
GE memperluas studi global ini dengan mensurvei sekitar 3000 eksekutif bisnis senior di 22 negara, yang semuanya berhubungan langsung dengan strategi dan pengambilan keputusan di bidang inovasi di perusahaan masing-masing. Barometer ini dibiayai oleh GE dan dilaksanakan oleh firma independen di bidang riset dan konsultansi StrategyOne untuk mengidentifikasi elemen penggerak serta penghambat bagi inovasi, serta menganalisa persepsi seputar kesempatan berinovasi serta tantangan-tantangannya.
Inovasi dan Pertumbuhan, Dua Hal yang Saling Berkait
Para eksekutif yang disurvei menunjukkan bahwa inovasi makin erat kaitannya dengan daya saing. Dengan membandingkan hasil survey dengan data ekonomi, laporan ini juga menunjukkan bahwa negara-negara dimana kebijakan inovasi bisa dianggap lebih bersaing ternyata menghasilkan pertumbuhan lebih tinggi di banding negara-negara dimana kerangka kebijakannya dianggap tidak kompetitif oleh para eksekutif tersebut.
- 92 persen eksekutif menyatakan bahwa inovasi adalah elemen penting untuk ekonomi nasional yang berdayasaing tinggi, dan 86 persen setuju bahwa inovasi adalah cara terbaik untuk menciptakan lapangan kerja bagi negara mereka.
- Pasar dimana dunia usaha lebih puas dengan lingkungan politik dan sosial bagi inovasi menghasilkan pertumbuhan GDP lebih tinggi (5.19 persen rata-rata) dibanding pasar dimana dunia bisnisnya mencemaskan atau merasa terancam dengan kebijakan yang ada (2.32 persen rata-rata).
- Eksekutif di Israel, Uni Emirat Arab, Swedia dan Singapura melaporkan tingkat kepuasan tertinggi dengan lingkungan inovasi di negaranya sementara Jepang, Rusia, Polandia dan Perancis melaporkan level kepuasan paling rendah.
- Yang menarik adalah, meskipun Jepang menunjukkan pandangan negatif atas lingkungan kebijakan inovasinya, para pimpinan bisnis global mendudukannya pada peringkat negara paling inovatif di dunia, di bawah AS dan Jerman, dan di atas Cina.
Survei ini menunjukkan bahwa investasi internal perusahaan di bidang inovasi, dari anggaran litbang sampai pengembangan produk baru maupun model bisnis baru akan terancam ketika komunitas bisnis mempunyai persepsi negatif atau ketika kebijakan negara yang mendukung inovasi semakin berkurang.
- 71 persen eksekutif melaporkan bahwa kebijakan eksternal maupun prioritas anggaran pemerintah yang mendukung inovasi semakin berkurang. Mereka juga melaporkan pengurangan anggaran litbang di perusahaan masing-masing.
- Perusahaan-perusahaan di dunia melaporkan penurunan tingkat kepuasan (42 persen) atas efisiensi dan koordinasi dari dukungan pemerintah atas inovasi.
"Berinvestasi untuk inovasi adalah kunci penting daya saing di tingkat global, dan bentuknya bisa bermacam-macam -- dari litbang/R&D biasa sampai dengan produk dan pasar baru, maupun model bisnis baru," kata Beth Comstock. "Pemotongan anggaran saat ini akan berakibat pada kemajuan ekonomi dan sosial di tahun-tahun berikutnya, dan dapat saja menghambat kemampuan perusahaan untuk bersaing. Pemerintah negara-negara dunia serta dunia usaha perlu turut serta mendukung ekosistem inovasi yang ringkih ini."
Pendekatan Baru Oleh Perusahaan atas Inovasi
Survei di tahun 2012 ini membuktikan hasil dari laporan Barometer pertama -- bahwa perusahaan yang bergerak lebih jauh dari model-model inovasi yang tertutup dan tradisional, serta menggunakan paradigm baru, yaitu berkolaborasi antar berbagai mitra, menghargai kreativitas organisasi-organisasi yang lebih kecil, bahkan juga orang perorang, serta menciptakan solusi khusus untuk menjawab kebutuhan lokal. Pimpinan perusahaan dari berbagai negara setuju bahwa inovasi terbaik di abad ke 21 merupakan nilai-nilai bersama -- menjawab kebutuhan manusia serta mencapai kinerja bisnis -- bukan hanya mengejar keuntungan.
- 88 persen (rekor pada saat ini) eksekutif setuju bahwa cara perusahaan-perusahaan berinovasi di abad ke 21 akan berbeda sama sekali dengan sebelumnya.
- 77 persen eksekutif mengakui bahwa individu-individu serta perusahaan-perusahaan kecil dan menengah mempunyai kemampuan sama dalam berinovasi dengan perusahaan-perusahaan besar.
- 73 persen setuju bahwa inovasi akan didorong oleh kreativitas orang, bukan riset iptek.
Namun, ada ketidaksinkronan antara pentingnya kemitraan dengan kebutuhan untuk menjalankan kemitraan tersebut pada waktu dekat. Ada semacam "paradoks kemitraan" dimana 86 persen eksekutif global meyakini kemitraan sebagai elemen penting dari model inovasi, tapi hanya 21 persen menyatakan bahwa mencari mitra yang tepat merupakan prioritas utama dalam menjalankan inovasi pada saat ini.
Tidak Ada Pendekatan Satu-Untuk-Semua
Yang terpenting, Barometer ini secara jelas menunjukkan bahwa inovasi di tingkat global bergerak ke arah yang lebih terbuka dan kolaboratif, namun di lain pihak inovasi di level lokal menunjukkan lingkungan yang kompleks, penuh tantangan serta kesempatan yang tidak dapat ditangani hanya dengan satu kebijakan besar, namun harus dipahami dan ditangani di level pasar. Tidak hanya lingkungan ini berubah dengan dramatis dari satu negara ke negara lain, tapi juga persepsi dimana inovasi bisa inovasi bisa lebih efektif, dan siapakah yang tampaknya lebih mungkin menjadi pendorong utamanya.
"Menciptakan kondisi untuk inovasi yang berarti memerlukan gabungan antara faktor-faktor internal dan eksternal yang dapat disesuaikan untuk memenuhi pasar tertentu serta kebutuhan customer tertentu," kata Beth Comstock. "Untungnya, studi tahun ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang saling bersaing siap untuk menggunakan pendekatan modern untuk inovasi yang akan menghasilkan nilai sertai solusi yang berarti."
Untuk informasi lebih lanjut tentang studi ini serta laporan terinci atas hasilnya, kunjungi: www.GE.com/innovationbarometer.
Tentang Barometer
Riset ini dipesan dan dibiayai oleh GE dan dijalankan oleh StrategyOne dari tanggal 5 Oktober 2011 sampai 15 November 2011. Wawancara dengan 2800 eksekutif senior dilakukan lewat telepon di 22 negara. Semua responden terlibat langsung dalam proses inovasi di perusahaan masing-masing, dan menduduki posisi VP atau lebih tinggi, dan 30 persen di antaranya ada di posisi tertinggi perusahaan mereka (C-suite). Negara-negara yang disurvei adalah Aljeria, Australia, Brazil, Canada, Cina, Perancis, Jerman, India, Israel, Jepang, Meksiko, Polandia, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Singapura, Swedia, Turki, Uni Emirat Arab, Inggris dan Amerika Serikat.
Tentang GE
GE (NYSE: GE) bekerja mewujudkan hal yang penting. Dengan para karyawan dan teknologi terbaiknya menangani masalah terberat. Mencari solusi di bidang energi, kesehatan, di sekitar tempat tinggal, masalah transportasi dan keuangan. Membangun, menerangi, menggerakkan dan menyehatkan. Tak hanya berimajinasi. Berbuat. GE bekerja. Untuk keterangan lebih lanjut, kunjungi situsnya di www.ge.com/id/in
Tentang StrategyOne
Didirikan tahun 1999 StrategyOne adalah perusahaan riset independen dengan kantor-kantornya di New York, Washington, DC, Paris, Abu Dhabi, London, Chicago, Brussels, Atlanta, Dubai, Houston, Rochester, San Francisco, Seattle dan di Lembah Silikon.
GE Contacts:
Leigh Farris
212-716-8928 (o) 203-551-1863 (c)
[email protected]
Hugh Gillanders
+32 2235 6914 (o) +32 (0) 473926914 (c)
[email protected]
Inggita Notosusanto
GE Corporate Manager - Communications
[email protected]
+62-21-5730500
+62-8118607439