Categories
Pilih Negara
Follow Us

Upaya Menjala Potensi Besar Energi Bayu di Lautan

Negara-negara Eropa seperti Inggris, Jerman dan Perancis, dianggap sukses dalam memanfaatkan energi angin yang berada di lautan. Melihat keberhasilan tersebut, sejumlah negara di kawasan Asia, seperti China satu di antaranya, pun mengikuti jejak dan juga cukup sukses saat menerapkannya di negara masing-masing.

Kemajuan pengembangan PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) bagi negara-negara di kedua kawasan tersebut diuntungkan letak geografisnya yang dekat kutub utara sehingga kecepatan anginnya sangat tinggi dan stabil sehingga tak ada alasan untuk tak memanfaatkannya.

Indonesia mempunyai rata-rata tiupan angin laut sekitar 3.4-4.5 m/detik atau masuk ke dalam kategori kelas “rendah-menengah”. Hal tersebut membuat pengembangan PLTB offshore di Indonesia belum mengalami kemajuan yang signifikan karena mayoritas masih berupa studi kelayakan di beberapa kawasan laut.

Profesor Adi Surjosatyo, Guru Besar Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia, menilai beberapa fakta tersebut memang disayangkan. Menurut dia, hembusan angin di daerah khatulistiwa yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan negara-negara di Eropa menjadi salah satu penyebab utama Indonesia belum berkembang maksimal.

Adi Surjosatyo menilai, pengembangan PLTB di Indonesia memang perlu keberanian, perhitungan, dan optimisme besar. Menurut dia, ketiga hal itu sangat diperlukan untuk mengembangkan PTLB berdasar perhitungan mengenai lautan Indonesia dengan potensi di beberapa puluh titik yang bisa menghasilkan lebih dari 1000 Mw.

”Maka dari itu, saya berharap baik pemerintah atau pun swasta bahu membahu dalam menjala energi bayu di kawasan laut agar tidak lagi sekedar wacana. Ini juga harus dimulai dari sekarang,” kata Adi Surjosatyo.

 

Banyak keuntungan

Selain itu, Adi menjelaskan, pengembangan PLTB sebenarnya punya banyak keuntungan bagi para investor. Di antaranya karena faktor lokasi yang berada di 10 km dari bibir pantai sehingga praktis tidak ada permasalahan lahan.

“Kalau di darat ada beberapa kasus terkait masalah kepemilikan atau fungsi lahan. Sehingga pengembangan onshore harus didukung penuh Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat agar ini bisa berjalan maksimal. Nah, kalau di laut urusan lahannya bisa lebih mudah. Keberadaan turbin-turbin di laut juga relatif tidak akan mengganggu masyarakat,” katanya.

Dari faktor kecepatan, angin di laut memiliki kecepatan relatif lebih tinggi dan stabil. PLTB di offshore tidak mempunyai efek wind park karena angin laut tidak akan terhalang oleh perbukitan pepohonan. Ini menjadikan gesek anginnya lebih rendah dibandingkan di daratan.

Kemudian, setiap tiang turbin PLTB juga bisa dibuat tidak terlalu tinggi untuk mendapatkan angin. Pengembang tinggal menghitung perkiraan kira-kira berapa tinggi ombak maksimal agar blade tak terjangkau air laut. Selain itu juga diukur berapa jarak ideal antar turbin. “Ini hanya masalah teknis yang solusinya bisa dipecahkan,” tutur Adi Surjosatyo.

Mengenai tantangan teknologi, Adi Surjosatyo mengatakan, saat ini, hal tersebut tidak lagi menjadi masalah besar. Menurut dia, berbagai provider teknologi turbin angin kini sudah menciptakan turbin angin yang kinerjanya makin efisien. “Bahkan canggih pakai teknologi digital,” Adi Surjosatyo menambahkan pembicaraan.

Dengan semakin banyaknya produsen-produsen turbin angin berinovasi dan memproduksi, Adi Surjosatyo berharap, harga turbin angin pun bisa lebih murah. Dari sisi tantangan transmisi, menurutnya, provider teknologi juga telah mempunya solusi-solusi praktis dan aman sehingga semua masalah efisiensi teknis tak ada masalah lagi.

Adi Surjosatyo mengatakan, untuk saat ini, diperlukan pembuatan kajian agar upaya pengembangan ini sangat efisien dan ekonomis. Contoh efisien, misalnya, jumlah turbin angin yang diperlukan untuk mendukung satu kawasan PLTB berapa banyak. Adi Surjosatyo menilai, dalam kondisi tersebut, sebaiknya langsung dipasang turbin yang kapasitasnya cukup besar, misalnya, 6 MW.

“Karena sekalian besar, biaya proyek bisa lebih ditekan dan penyelesaian proyek bisa lebih cepat. Daripada hanya memperbanyak turbin di kawasan offshore dengan kapasitasnya kecil-kecil yang menyebabkan lamanya waktu pengerjaan dan mahalnya biaya konstruksi. Nanti biaya maintenance-nya  juga tinggi,” tutur Adi Surjosatyo.

 

Solusi terbukti

Untuk kecepatan angin rendah ke medium seperti di Indonesia, satu di antara turbin yang bisa diunggulkan adalah turbin Haliade 150-6MW yang diproduksi GE. Turbin ini mempunyai rotor berdiameter 150 meter dengan masing-masing bilah sepanjang 73.50 meter.

Dikembangkan untuk semua kondisi lautan, Haliade 150-6 MW dibuat dan didesain di Pure Torque. Turbin ini terbukti memberikan efisiensi yang tinggi dan keandalan tanpa batas sehingga menurunkan biaya CAPEX dan juga Biaya Pokok Produksi (BPP) Listrik.

Sebagai bukti keandalannya, Haliade 150-6MW turbin angin dipercaya oleh EOLFI dan CGN untuk salah satu PLTB offshore pertama di di 14 km lepas pantai Brittany Groix, Prancis, pada Agustus 2016. Pada bulan yang sama, Haliade 150-6MW dipercaya di PLTB offshore pertama di AS di Block Island. Proyek 30 MW ini menghasilkan daya cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk

Setelah itu, pada November 2016, Haliade 150-6MW dipilih sebagai turbin angin untuk PLTB yang terletak 13 km di lepas pantai di Leucate, Prancis. Haliade 150-6MW mulai dipercaya di Asia pertama kali oleh PLTB di Teluk Xinghua milik China Fuqing Haixia (perusahaan gabungan antara China Three Gorges dan Fujian Energy). Di PLTB ini terdapat tiga turbin angin Haliade 150-6MW.

Subscribe to our GE Brief