Categories
Pilih Negara
Follow Us

Turbin Angin raksasa GE: Haliade-X

GE Renewable Energy memecahkan rekor di dalam persaingan memproduksi turbin angin terbesar di dunia. Turbin angin “raksasa” produksi teranyar tersebut bernama Haliade-X, yang mempunyai ketinggian tiang penyangga sepanjang 260 meter, panjang rotor 220 meter, serta panjang setiap bilahnya 107 meter.

Secara tinggi, Haliade-X beda tipis dengan Menara Eiffel di Paris, Prancis. Sementara dari segi diameter, Haliade-X tercatat lebih besar dari wahana London Eye.

Turbin yang dirancang oleh LM Wind Power ini merupakan hasil paduan teknis unik dan selaras antara komponen rotor besar, tiang tinggi, dan baling-baling yang sangat panjang. Komponen tersebut membuat Haliade-X dapat menangkap lebih banyak hembusan angin daripada turbin angin dari produsen lain.

Wayah Suryo Wiroto, Country Leader GE Renewable Hydro Indonesia, menjelaskan, peruntukkan turbin angin raksasa ini dikhususkan bagi PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) lepas pantai. Untuk satu unit Haliade-X, kata dia, bisa menghasilkan listrik sebesar 12 Mw sehingga mampu memasok listrik untuk sekitar 16.000 rumah di Eropa.

“Kalau dipasang di Indonesia dengan kapasitas yang sama dapat mengaliri listrik ke lebih banyak rumah,”kata Wayah Suryo Wiroto kepada GE Report Indonesia.

Sementara itu, Jerome Pecresse, Presiden dan CEO GE Energi Terbarukan, mengungkapkan, “Haliade-X merupakan salah satu bentuk komitmen GE terhadap kebutuhan turbin angin untuk PLTB lepas pantai. Diharapkan, keberadaan Haliade-X akan berdampak pada menurunnya biaya pokok produksi dan juga bisa menciptakan geliat pengembangan PLTB lepas pantai di seluruh dunia.”

Andal dan efisien

Terlepas pembahasan soal ukuran, Haliade-X juga didaulat sebagai turbin angin paling andal dan efisien. Hal ini mengacu terhadap kinerja Haliade-X yang bisa memproduksi lebih banyak listrik hingga 67 gigawatt-jam (GWh) setiap tahun, atau 45% lebih banyak dibandingkan turbin angin lainnya.

Di sisi instalasi, Haliade-X sangat cocok dipasang pada PLTB dengan angin berkecepatan tinggi sehingga kapasitas produksi listriknya bisa lebih besar. Meski begitu, Haliade-X bisa juga dipasangan di PLTB yang mempunyai kecepatan angin rendah karena desainnya “tidak sensitif” terhadap variasi kecepatan angin. Dari keunggulan ini, Haliade-X mampu meningkatkan prediktabilitas dan kemampuan menghasilkan lebih banyak listrik walau kecepatan anginnya rendah.

Pada sistem pengoperasian, Haliade-X dirancang menggunakan proses sederhana dengan dukungan sistem digital. Secara eksklusif, sistem digital tersebut bisa membantu operasi lepas pantai tak terkecuali pengoperasian diagnostik jarak jauh. Sistem digital juga meningkatkan manajemen waktu — lebih sedikit waktu di laut — dan mengoptimalkan perawatan.

Secara keekonomian, Haliade-X bisa memberi keuntungan kepada pelanggan GE karena sanggup melakukan penghematan signifikan, baik pada saat instalasi, layanan, dan perbaikan. Bahkan kapasitas faktor Haliade-X dapat mencapai 63% dengan patokan setiap titik inkremental dalam kapasitas faktor bernilai sekitar USD 7 juta bagi keuntungan pelanggan selama life cycle di PLTB lepas pantai. Tercatat, penghematan Haliade-X selama life cycle mampu mencapai rata-rata USD26 juta per turbin per 100 MW bila dibandingkan dengan Haliade 150-6MW.

Karena menggunakan komponen mesin yang lebih sedikit, pemasangan pondasi Haliade-X di laut pun menjadi lebih mudah dan praktis. Hal ini pun bisa mempersingkat waktu pengerjaan proyek, termasuk penghematan besar pada total biaya capital expenditure (capex).

 

 

Inggris tempat uji coba perdana

Haliade-X kapasitas 12 MW ini akan muncul dalam uji coba pertama pada 2019. Rencananya, turbin ini akan diuji pakai dalam kondisi ekstrem pada PLTB lepas pantai di Blyth, Northumberland, Inggris, satu tahun setelahnya.

Terkait hal ini, GE telah menandatangani kesepakatan lima tahun dengan pemerintah Kerajaan Inggris dalam menguji mesin turbin Haliade-X 12 di Pusat Energi Terbarukan Nasional, Catapult. Kesepakatan itu termasuk investasi bernilai USD8,3 juta dari pendanaan Innovate UK, Inggris, dan Dana Pembangunan Regional Eropa (ERDF) untuk memasang sistem emulsi dengan jaringan lebih kuat dan terbesar di dunia dan berpusat di Blyth, Catapult.

“Ini kesepakatan penting karena dapat membuktikan keandalan Haliade-X walau dalam kondisi area yang ekstrem,” kata John Lavelle, CEO of Offshore Wind, GE Renewable Energy.

Direktur Eksekutif Renewable UK, Emma Pinchbeck, menjelaskan, kesepakatan ini merupakan keyakinan kuat Inggris untuk menjadi tempat teknologi turbin angin lepas pantai yang terdepan dengan Offshore Renewable Energy Catapult sebagai pusat tes global.

Sementara itu, Menteri Energi dan Pertumbuhan Ramah Lingkungan Inggris, Claire Perry menyatakan, negaranya memang berstrategi menjadi sebagai pemimpin global energi terbarukan, termasuk pengembangan PLTB lepas pantai. Dibandingkan dengan negara lain, Inggris memang dikenal ambisius dalam pengembangan PLTB lepas pantai. Bahkan, Inggris saat ini menguasai sekitar seperempat dari investasi tenaga angin di penjuru Eropa.

Subscribe to our GE Brief