Categories
Pilih Negara
Follow Us

Tiffany Halim: Antara Cita-Cita, Cinta, dan Dedikasi Bekerja di Bidang Aviasi

Tersulutnya rasa cinta Tiffany Halim (30) kepada dunia aviasi bermula ketika berusia 15 tahun. Kala itu, ia membayangkan menerbangkan pesawat adalah sesuatu yang sangat hebat. Demi mengejar cita-cita, setelah lulus SMA, Tiffany memilih meneruskan ke sekolah penerbangan di Flight Safety Academy, Amerika Serikat.

Sebagai remaja yang merantau belajar ke negara lain, ia mengakui awalnya perlu beradaptasi dengan ritme sekolah, lingkungan, dan budaya sekitarnya. “Saya belajar mati-matian. Belajar bahasa Inggris sendiri. It was tough,” kata Tiffany kepada GE Reports Indonesia. Setelah enam bulan belajar, Tiffany berhasil lulus dengan skor 98%. “Saat itu, saya satu-satunya wanita, dan yang termuda di kelas untuk mendapatkan lisensi dari FAA,” tuturnya lagi.

Tak puas, Tiffany melanjutkan sekolah untuk mengejar gelar sarjana bisnis aviasi di Embry Riddle Aeronautical University Prescott. Di kampus itu, ia tak ingin hanya sekadar kuliah, tapi juga aktif mengikuti magang, mengambil kredit untuk bekerja, serta memimpin klub bisnis guna ikut kompetisi melawan klub dari universitas lain.

“Saya pernah menjadi President of Phi Beta Lambda dan Duta Besar International Student Association, juga juru bicara dari McNair Scholars Program,” tuturnya.

Selepas menyelesaikan sekolah, Tiffany kembali ke Jakarta dan bekerja di Travira Air yang mengoperasikan penerbangan carter menuju kota-kota di Indonesia dan Benua Asia. Di maskapai tersebut, ia menjadi bagian bisnis analis yang mengurusi tender dari awal, dokumen proposal, komersial, dan teknis. Tiffany bergelut selama tiga tahun di perusahaan itu, yang kemudian pindah ke perusahaan lain guna mengembangkan kariernya.

“Waktu itu saya berniat pindah ke Singapura, lalu melakukan interview dengan GE, akhirnya saya ditempatkan di Jakarta,” kata Tiffany. Bergabung dengan GE Aviation sejak Desember 2016, Tiffany bertanggung jawab sebagai spesialis data yang merupakan bagian teknik paling dasar. Namun posisi itu tak membuatnya puas. Ia pun pindah ke divisi lain, yakni sebagai engineer yang sering turun ke lapangan dan berhubungan langsung dengan maskapai penerbangan.

“Saya ingin terjun sebagai engineer dan melihat langsung cara kerja mesin pesawat. GE memberi saya kesempatan untuk ini,” katanya.

Menentukan Prioritas

Ketika ditanya sudahkah merasa berada di jalur karier yang diinginkan, Tiffany mengaku belum mendapatkan hal tersebut. Ia menilai, perjalanan kariernya masih panjang dan seharusnya tidak mudah puas dengan apa yang telah dicapai saat ini.

Ditambah sebagai orang yang serius dan perfeksionis, Tiffany menginginkan apa pun yang dikerjakannya berkualitas. Apalagi belajar secara detail mengenai mesin pesawat terbang tidak ada habisnya karena selalu ada hal baru yang dapat dipelajari.

Karena itu, ia pun tidak menggunakan akhir pekan sebagai waktu untuk beristirahat atau mencari hiburan, namun guna mempelajari lebih dalam akan mesin pesawat. Tujuannya tentu saja agar ia mampu mengingat sistem mesin pesawat dari depan sampai belakang. “Karena engineer seperti dokter umum yang mesti tahu semuanya,” ujarnya.

Antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, Tiffany selalu menentukan prioritas. Alasannya, ia tidak percaya pada istilah work life balance. “Seseorang tetap harus menentukan prioritas dan memilih dari dua hal tersebut,” kata dia. “Tidak mungkin keduanya berjalan beriringan.”

Seperti perempuan pada umumnya, ia juga memiliki pemikiran untuk membangun keluarga. Namun ia belum merencanakannya saat ini. “Saya lebih suka short term goal daripada long term goal. Cepat sampai di titik ini baru nanti ke titik berikutnya. Long term goal masih kabur cara meraih ke sananya,” ujarnya.

 

Pegangan Dalam Berkarier

Tiffany yang pernah menerbangkan Cessna 172, Piper PA-28 Cherokee dan helikopter Robinson R22 helicopter itu menekankan tidak boleh mudah menyerah dalam perjalanan karier yang panjang dan naik turun. Untuk menyemangati diri, ia membaca banyak buku motivasi untuk memperbaiki diri dan memperkuat mental.

Selanjutnya, saat melakukan kesalahan sebaiknya tidak berlarut-larut merasa jatuh. Tentu semua orang ingin apa yang dilakukan sempurna, tetapi saat melakukan kesalahan tidak baik berlama-lama menyalahkan diri sendiri.

“Memang bagus kalau dari awal sadar salahnya di mana. Tapi, merasa bersalah lama-lama bisa membuat depresi. Yang penting kalau sadar salah cepat perbaiki. Mencoba tetapi gagal lebih baik daripada tidak mencoba,” ujar Tiffany.

Untuk tantangan sebagai engineer perempuan di bidang yang banyak dikuasai laki-laki, ia menyebut rekan kerja laki-laki harus dibuat percaya dengan memiliki pengetahuan yang lebih baik. Setidaknya pengetahuan harus sejajar atau lebih tinggi untuk menjawab semua tantangan. Bahkan ia rela tetap berada di hanggar pesawat sampai pukul tiga pagi untuk melihat langsung proses perbaikan mesin pesawat. “Melihat langsung mesin diperbaiki adalah cara belajar yang berharga karena teori dan praktek bisa sangat berbeda,” kata dia.

Selanjutnya, Tiffany menyiapkan rangkaian hal yang harus dikerjakan dan memilih untuk mengerjakan pekerjaan yang dinilainya paling berat terlebih dulu. Dengan susunan hal yang harus dikerjakan itu, sampai kantor ia sudah tahu hal yang mau dikerjakannya. “Sebab dalam bekerja, kita perlu fokus dan tidak mudah teralih pada pekerjaan lain yang mungkin menyebabkan justru semua pekerjaan tidak terselesaikan,” ujarnya.

Terakhir, ia berpegangan semua kesempatan yang diberikan dalam pekerjaan harus bisa dikerjakan dengan kemampuan terbaik, walaupun pekerjaan yang dinilai kurang penting. Ia percaya orang lain akan melihat usaha yang sudah dikeluarkan. “Orang akan menilai dia kalau kerja begini. Kesempatan tidak bisa ditebak datangnya kapan jadi intinya semangat terus, menemui kegagalan jangan give up,” tandas dia.

Subscribe to our GE Brief