Categories
Pilih Negara
Follow Us

Tekad Icha Taklukkan Lapangan Offshore Migas

Lapangan eksplorasi, eksploitasi, serta produksi minyak dan gas, baik itu onshore atau offshore digambarkan sebagai sebuah area kerja dengan potensi bahaya tinggi. Jika pernah menonton film Deep Water Horizon yang dibintangi Mark Wahlberg, maka terbayanglah area kerja lapangan migas adalah wilayah tinggi risiko untuk semua pekerjanya, tak terkecuali pekerja perempuan.Gambaran risiko kerja ini diamini oleh Luisa Marina Aegiputranti, Completion Field Engineer di Baker Hughes General Electric (BHGE).

Sebagai engineer migas perempuan, ia menyadari semua risiko itu benar adanya. “Namun, menyenangkan bisa bekerja di site karena menemukan hal baru, dinamis, kondisinya berubah terus, keamanan juga diperhatikan,” ujar Icha, panggilan akrab wanita berusia 28 tahun ini.Justru menurut Icha, banyak tantangan menarik di lapangan migas buat seorang perempuan karena di lapangan ia bisa bertemu orang dari berbagai orang suku bangsa dan latar belakang berbeda.

“Sebagai contoh, gaya bahasa dan ritme kerja di satu daerah bisa saja sangat berbeda dengan daerah lain jadi kita harus pandai beradaptasi dan menyesuaikan diri,” tuturnya.Kemudian ada tantangan berat untuk mengatasi situasi dinamis dari kondisi proyek yang terus berubah. Satu contoh situasi berat yang pernah ia alami terjadi pada suatu dini hari tiba-tiba seluruh pekerja dibangunkan dan harus segara berkumpul. Keadaan genting itu terjadi karena sebuah kaki platform offshore migas disinyalir mengalami keretakan akibat tertabrak kapal muatan yang terbawa arus ombak karena jangkarnya lepas.Selama proses pengecekan benar tidaknya keretakan itu, Icha tersadar merasa kecil sekali sebagai manusia.

“Merasa kecil sebagai manusia, pamitan sama ibu saja tidak bisa,” ceritanya. Saat itu berbagai perasaan pun berkecambuk, banyak hal yang disesalinya karena tidak dilakukan.Setelah diketahui tidak terjadi apa-apa dan dalam kondisi aman, Icha akhirnya berjanji pada diri sendiri lebih menghargai apa yang dipunyainya.

“Peristiwa itu menampar saya agar melakukan sesuatu, jangan berhenti karena sesuatu yang tidak substansial. You only live once (YOLO) itu benar,” kata lulusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada itu. “Dan sampai saat ini, sebagai perempuan saya bangga karena bisa membuktikan bisa bertahan di medan kerja yang berat.”

BHGE Ikut Membentuk KepribadiannyaSebelum berkarier di BHGE, Icha pernah magang di PT NALCO Indonesia sebagai process engineer produksi kimia, selama dua bulan, pada masa akhir perkuliah di Kampus Biru. Setelah lulus kuliah pada 2012, ia menjadi strategi analis di PT Trakindo Utama dan bertahan selama dua tahun. Setelah itu, Icha mengikuti rekrutmen BHGE dan ditempatkan di Balikpapan, lebih tepatnya di bagian WellBore Construction.Sejak bekerja di BHGE pada Mei 2014, Icha mengaku sudah terbiasa berada di lapangan baik offshore atau onshore, hingga berhari-hari.

Pada tahun pertama bekerja di lapangan, ia harus melakukan observasi secara penuh di beberapa proyek migas. Sementara di tahun kedua, ia sudah mulai ikut in charge di beberapa job liner hanger di Total Indonesia.Saat di Balikpapan, tepatnya di lapangan offshore minyak milik Pertamina Hulu Mahakam (PHM), ia membantu untuk menerapkan teknologi milik BHGE yang dulu juga digunakan oleh Chevron Thailand. “Teknologi tersebut adalah Mono Trip Gas Lift,” ujarnya.

Saat ini, Icha bertanggung jawab pada beberapa proyek baik di Jakarta, mau pun di Balipapan. Perempuan kelahiran Yogyakarta itu menjelaskan bahwa BHGE ikut andil dalam membentuk mental dan kepribadiannya sehingga lebih kuat dan percaya diri. “Pribadi awal saya pemalu tidak cukup berani mengutarakan keinginan, tetapi sekarang saya justru enjoy bekerja di sektor yang di dominasi oleh laki-laki,” kata dia.

Penyuka olahraga panjat dinding itu ingat saat awal bekerja pernah merasa kurang percaya diri menghadiri pertemuan dan juga melakukan presentasi. “Saya beberapa kali berada pada situasi yang cukup sulit dan mengintimidasi sehingga membuat saya ragu untuk mengutarakan pendapat,” katanya.

Bahkan ketika memperoleh pelatihan yang mengharuskannya berkumpul dengan orang dari berbagai negara yang fasih berbahasa Inggris, Icha mengaku awalnya terbata-bata berkomunikasi dengan rekan yang memiliki bahasa ibu Inggris.

“Mereka lancar berbicara, saya jadi terbata-bata padahal sudah ada di kepala,” kata dia.”Tetapi tujuan pelatihan selain untuk pengetahuan juga agar tidak takut dan menganggap diri setara, apalagi mewakili negara dan perusahaan.”Lambat laun mentalnya terbentuk lebih berani bahkan mendorongnya hingga ke puncak batasnya, seperti menjadi MC (Master Ceremony) dan presentasi langsung ke kampus.

Subscribe to our GE Brief