Categories
Pilih Negara
Follow Us

Syukriansyah Putra, Menjawab Tantangan Besar Tie-in SUTET 500kV “Pantura Crossing”

Hari Raya Idul Fitri biasanya selalu menjadi momen paling ditunggu-tunggu bagi umat muslim setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh untuk berkumpul bersama keluarganya masing-masing dan melaksanakan mudik ke kampung halaman. Namun, tidak demikian dengan Syukriansyah Putra, GE Grid Solutions Project Group Manager yang pernah dihadapkan dalam situasi memilih pekerjaan atau keluarga saat momen Lebaran tersebut.

“Kami dan lebih kurang 200 orang dari tim konstruksi tidak sempat mudik Lebaran tahun lalu karena harus melakukan pekerjaan Tie-in (potong-sambung) di 25 tower baru yang sudah kami konstruksi yaitu Transmission Line, Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV ke dalam sistem grid Jawa-Bali bagian utara. Ini adalah salah satu tantangan non teknis terberat bagi tim karena tak bisa bertemu keluarga saat Lebaran,” ungkap Syukriansyah Putra saat menceritakan pengalamannya dengan GE Reports Indonesia.

Awalnya, Syukriansyah mengaku, sempat khawatir kekurangan tenaga kerja karena tugas tersebut dilaksanakan di tengah libur Lebaran. Namun, komitmen tinggi dari seluruh tim dan juga dukungan besar manajemen GE, ia bersyukur semua tantangan tersebut bisa dihadapi dengan baik dan tugas Tie-in dapat bisa dilakukan dengan jumlah tenaga kerja sesuai yang direncanakan.

Syukriansyah menjelaskan, pertimbangan melaksanakan tugas tie-in tersebut saat Lebaran karena pekerjaan itu membutuhkan pemadaman sementara (temporary shutdown) di sistem grid Jawa-Bali bagian utara. Jadi, hal tersebut akan sulit direalisasikan apabila dilaksanakan pada hari di luar periode libur Lebaran. Hal ini mengingat sistem grid Jawa-Bali bagian selatan tidak bisa menampung kebutuhan permintaan listrik yang tinggi.

“Periode libur Idul Fitri kan durasi liburnya panjang. Bersamaan dengan itu kebutuhan listrik Jawa-Bali pun menurun termasuk beban puncak juga akan sangat rendah dibanding dengan biasanya. Karena itulah PLN mengizinkan untuk mematikan sementara (temporary shutdown) sistem grid Jawa-Bali bagian utara dan mengalihkan aliran listrik ke sistem bagian selatan,” jelasnya.

Namun, pihak PLN hanya memberikan durasi pemadaman sementara (temporary shutdown) selama 6 hari. Alasannya karena apabila tetap diteruskan lebih dari dari 6 hari, permintaan kebutuhan listrik sudah kembali naik. Jika belum selesai, nantinya PLN terpaksa harus menghidupkan beberapa Pembangkit independent-nya untuk mengcover kebutuhan listrik tersebut. Hal ini pun dapat berdampak secara signifikan kenaikan biaya produksi listrik PLN.

Demi mengatasi resiko tersebut, Syukriansyah mengungkapkan, timnya melakukan persiapan dan perencanaan matang dan akurat. Durasi untuk memutus dan menyambungkan kabel SUTET di empat tower dikerjakan secara paralel selama 6 hari berturut-turut selama 12 jam, dimulai dari jam 06.00 pagi sampai dengan jam 18.00 petang.

Syukriansyah mengatakan, timnya memang sempat khawatir dengan durasi waktu yang sangat sempit tersebut, sementara di sisi lain pekerjaan ini tak bisa di lakukan di malam hari karena teknis pengerjaannya dilakukan di ketinggian sekitar 60 Meter. Risiko kecelakaan kerja sangat tinggi apabila tim melakukan pemanjatan dan berjalan di kabel SUTET dalam situasi tersebut.

“Pernah ada hujan deras disertai angin kencang terjadi di siang hari ketiga, yang akhirnya beberapa pemanjat pun harus segera dievakuasi. Jadi, kami harus ekstra hati-hati dalam melakukan pekerjaan tie-in ini. Tapi syukurlah semua terlaksana dengan tepat waktu dengan catatan zero accident,” ungkap Syukriansyah.

 

Proyek Perdana

Syukriansyah menjelaskan, pekerjaan tie-in ini lokasinya berada di Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa tengah. Tujuan akhir dari pekerjaan ini adalah menghubungkan pasokan listrik PLTU Batang 2×1000 MW ke Gardu Induk (GI) 500 KV Batang melalui transmission line baru yang GE bangun dengan total kontrak penyelesaian pekerjaan selama 27 bulan. Setelah GI selesai, selanjutnya disalurkan atau dievakuasi masuk ke dalam system grid Jawa Bali bagian utara.

“Jadi lokasi PLTU Batang ini berada ditengah-tengah antara PLTU Paiton dan PLTU Suralaya. Kemudian kami potong dan sambungkan ke dalam system grid transmission line eksisting. Proses penyambungan kabel transmisi ini melewati / menyeberangi jalan raya di jalur pantura, sehingga pekerjaan ini sering juga disebut Pantura Crossing,” jelasnya

Disisi lain, Syukriansyah mengekspresikan kebanggaannya mampu merealisasikan pekerjaan tie-in karena Pantura Crossing merupakan proyek kali pertama bagi PLN di Indonesia untuk memotong Transmission line 500 kV yang merupakan backbone kelistrikan di sistem di Jawa-Bali.

Selain pertama kali bagi PLN, proyek transmission line ini juga merupakan hal baru bagi GE Indonesia. Sebab, GE belum pernah melaksanakan Project EPC turnkey yang melibatkan scope pekerjaan Transmission line 500kV.

 

Menepis keraguan

Awalnya, Syukriansyah mengaku sempat ragu mengerjakan proyek transmission line tersebut. Hal tersebut dikarenakan, GE tidak punya in-house expert untuk melakukan review dan justifikasi. “Berbeda apabila kami menggunakan produk GE sendiri, mudah bagi saya dan tim untuk berkonsultasi apabila menemukan suatu kendala ataupun permasalahan,” ungkap Syukriansyah.

Oleh karena itu, untuk mengurangi knowledge gap ini, tim akhirnya memutuskan untuk bekerjasama dengan perusahaan konsultan yang bergerak di bidang engineering konsultasi terutama bidang transmission line. Tugasnya membantu team dalam hal memberikan review desain dan mengawasi jalannya konstruksi dilapangan.

Syukriansyah menambahkan, selain bekerjasama dengan perusahan konsultasi, GE operation team juga melakukan Risk Review setiap 3 bulan sekali agar tim bisa melakukan manajemen risiko dengan baik. Salah satu hasil dari Risk Review tersebut, adalah keputusan team eksekusi untuk mencari sub-kontraktor pekerjaan Transmission Line yang benar-benar reliabel.

“Kami memberikan tambahan input dan penekanan kepada tim Internal (Sourcing dan Procurement) untuk benar-benar melakukan review sub kontraktor Transmission line secara detail, mulai dari kondisi keuangan perusahaannya untuk menjalani pekerjaan ini, pengalaman di bidang transmission line, pengalaman bekerja bidang konstruksi dengan kelistrikan tegangan tinggi dan lain sebagainya,” ujar Syukriansyah.

Sebagai informasi, PLTU Batang atau Central Java Power Plant (CJPP) merupakan proyek pembangkit listrik tenaga uap ultra critical sebesar 2 x 1.000 MW di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. PLTU Batang akan dibangun Special Purpose Vehicle (SPV) PT Bhimasena Power Indonesia yang beranggotakan J-POWER (34%), Adaro (34%), dan Itochu (32%).

PLTU Batang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Pulau Jawa dan merupakan bagian dari program penyediaan listrik 35.000 MW pemerintah. Sebagai salah satu pilot project KPBU pertama dan terbesar di Indonesia, PLTU Jawa Tengah memiliki peran strategis mendorong keterlibatan investasi swasta dalam pembangunan infrastruktur.

“Saya bersyukur, di tengah berbagai kendala dan tantangan, masih dapat berpartisipasi di proyek ini karena ini bagian dari program listrik 32.000 MW pemerintah untuk peningkatan grid dan mendukung pasokan listrik bagi industri di beberapa kawasan,” Syukriansyah menutup pembicaraan.

Subscribe to our GE Brief