Categories
Pilih Negara
Follow Us
Perspectives

Solaragency, Prasarana Penanganan Darurat Bencana yang Praktis dan Lengkap

Beberapa jam atau hari setelah terjadinya bencana besar adalah waktu yang paling krusial dalam fase penanganan. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tiga hari pertama adalah waktu kritis untuk pencarian dan penyelamatan serta pemulihan medis. Pada saat itu, semua pihak baik masyarakat yang selamat ataupun relawan harus bisa memaksimalkan sumber daya yang masih ada baik fisik, kesabaran dan sebagainya. Utamanya bagi relawan agar bisa menolong korban-korban yang masih membutuhkan pertolongan.

Pada sisi eksternal, penanganan darurat untuk kebutuhan air, makanan, obat-obatan, dan sebagainya, pun harus dipercepat pengadaan dan distribusinya. Ini agar semua tindakan bisa sesigap mungkin agar bisa menyelamatkan korban dan menciptkan situasi ke arah yang lebih positif.

Satu di antara prasarana penting yang dibutuhkan pascabencana adalah tenda darurat. Fungsinya selain untuk hunian sementara (huntara) para pengungsi, bisa juga digunakan sebagai mobile medical treatment korban bencana.

“Tenda memang multifungsi. Kami bersyukur, biasanya sih setiap ada bencana tenda-tenda tersedia saja banyak, baik punya relawan, BNPB, dan sebagainya. Distribusi tenda ke daerah bencananya juga sudah baik,” Adzhani Pane, satu di antara tim Institute for Clean and Renewable Energy (ICARE) Indonesia Foundation.“Namun, setelah tenda didirikan, kami baru menyadari, kami perlu penunjang lain. Satu di antara yang penting adalah pasokan listrik, baik itu untuk pencahayaan, komunikasi ataupun menyalakan alat medis tertentu,” imbuh wanita yang biasa disapa Hani tersebut.

Ditambahkannya, masalah pasokan listrik untuk keadan darurat memang sering terlewatkan dan terlupakan. Menurut Hani, semua pihak seolah hanya bisa berharap agar pihak PLN bisa segera memulihkan pasokan listrik.Padahal, ia melanjutkan, pasca bencana infrastruktur listrik dari hulu sampai hilir kerap ada saja yang rusak baik itu skala kecil atau menengah. “Misalnya, tiang listrik yang roboh. Ini kan perlu waktu memperbaikinya. Belum lagi kalau akses jalannya juga rusak. Jadi, kami tak bisa hanya bergantung pada PLN pada saat itu,” tegas Hani.

Oleh karenanya, dari pengalaman saat jadi relawan di Lombok, Hani bersama teman-teman ICARE lainnya, yakni Adli Renhoren dan Yan Yan M.A, berpikir untuk membuat solusi yang terintegrasi. “Kami akhirnya cetuskan ide sebuah tenda darurat satu paket dilengkapi oleh pasokan listrik yang mandiri. Kami namakan solusi ini Solargency,” kata dia.

Apa itu Solargency?

Hani menjelaskan, pada intinya, solaragency merupakan prasarana tenda yang dilengkapi dengan PV dan baterai sebagai sumber energi listrik. Bahan bakar utama untuk pasokan listrik adalah sinar matahari. Berdasarkan pengalaman di Lombok, BBM sangat langka pasca bencana alam sehingga genset sulit beroperasi, padahal genset adalah sumber listrik utama pasca bencana alam.

Berkat kemajuan teknologi, kita dapat mendapatkan listrik dari sinar matahari menggunakan panel surya. Panel surya yang digunakan juga bukan panel biasa, panel ini disebut dengan flexible PV atau panel yang lentur dan jauh lebih ringan dibandingkan panel biasa. Flexible PV yang ringan membuat teknologi ini dapat diletakkan diatas tenda darurat. Inspirasi ini datang dari Solar Rooftop atau surya atap yang saat ini sedang marak diperbincangkan.

Selain tenda, Solargency juga dilengkapi dengan komponen listrik seperti baterai untuk menyimpan listrik. Komponen-komponen ini disimpan didalam mini-trail yang bisa digandeng mobil atau helicopter ke daerah bencana. Tim ICARE menyebutnya dengan nama Electruck atau Electric Truck. Analoginya adalah Electruck ini merupakan power bank raksasa yang bisa dibawa kemana-mana. Hanya saja power bank besar ini kita charge ke panel surya.

Tiga kategori fasilitas

Fungsi solargency dibagi dalam tiga kategori fasilitas. Pertama untuk masyarakat umum seperti pengungsi. Kedua, solargency juga bisa berfungsi dalam dunia medis melalui pencahayaan dan listrik. Terakhir solargency juga digunakan untuk fasilitas pusat informasi salah satunya untuk mengaktifkan banyak perangkat elektronik kembali agar korban bencana bisa menghubungi sanak keluarga di luar daerah bencana. “Bahkan bisa menghibur atau mengobati efek trauma para korban,” Hani menjelaskan.

Raih Penghargaan

Dalam ajang Energy Innovation Challenge yang digelar dalam menyambut Hari Listrik Nasional ke-73 bertajuk Power Gen Asia 2018, di ICE Serpong, Tangerang Selatan, ICARE mampu tampil sebagai pemenang dalam kategori Solar Energy Solution for Natural Disaster. Acara ini merupakan ajang bagi para inovator dalam menyalurkan berbagai ide dan memperlihatkan inovasi unggulan dalam bidang pemberdayaan.

ICARE mendapatkan hadiah trofi sebagai penghargaan serta pelatihan dan dengan akses ke tokoh-tokoh penting dalam industri dengan bimbingan dari Leon Pulles sebagai Managing Partner di Energy Investment Management BV.

“Para juri menilai solargency mampu memaparkan solusi yang relevan dan efektif serta berkelanjutan untuk membantu masalah listrik bagi korban gempa bencana gempa di Indonesia. Terus terang, kami agak terkejut karena banyak peserta-peserta lain yang juga bagus konsepnya,” Hani menambahkan.

Ke depan, ICARE berharap, konsep ini tak sekedar dijadikan “hiasan” dalam upaya memenangkan lomba yang tahun ini digelar dalam booth GE Knowledge Hub tersebut. Menurut dia, solargency saat ini memang masih prototype, namun akan menjadi solusi bermanfaat jika dapat diimplementasikan maksimal baik oleh pemerintah atau pun swasta.

Subscribe to our GE Brief