Categories
Pilih Negara
Follow Us

Sekarang Mengukur Tekanan Darah Bisa dengan Aplikasi Smartphone

Tensimeter atau alat pengukur tekanan darah manusia pertama kali diciptakan oleh ahli fisiologi asal Jerman, Karl von Vierordt pada 1800-an. Ketika itu, tensimeter dibuat menggunakan bungkus manset dan terus mengalami beragam evolusi dan bentuk.

Umumnya, saat ini kita mau memeriksakan tekanan darah, petugas medis atau dokter akan menggunakan satu set tensimeter lengkap. Di antara bagiannya adalah kain berbungkus kantung plastik yang cukup tebal dan bisa mengembang ketika diisi udara. Setelah membalutkan kain pada lengan atas, petugas medis akan memompa dengan meremas sebuah balon pompa untuk mengalirkan udara ke manset.

Setelah dipompa jarum dalam tabung kaca air raksa menunjuk angka informasi. Itu adalah contoh kerja tensimeter konvensional, yang walau diakui keakuratannya, namun beberapa pihak medis mulai tidak merekomendasikan alat ini. Alasannya, keberadaan tabung air raksa pada tensimeter bisa saja pecah dan bisa berakibat fatal terkena tubuh.

Selain itu, ada juga tensimeter aneroid atau jarum mekanik. Alat ini tidak menggunakan air raksa, melainkan menggunakan gauge untuk mengukur tekanan, namun cara kerjanya sama dengan tensimeter di atas. Terakhir adalah tensimeter digital. Dilihat dari cara kerja, tensi ini mirip dengan dua alat sebelumnya. Tetapi angka informasi yang analog dikonversi secara digital, dengan dukungan baterai untuk dayanya.

Kini bentuk dan cara penggunaan tensimeter digital semakin portable serta praktis. Tapi kepemilikannya belum begitu memasyarakat, karena rata-rata alat ini hanya dimiliki fasilitas medis dari mulai klinik, rumah sakit, puskemas, ataupun hanya tenaga medis. Kalau pun ada dimiliki perorangan, itu hanya segelintir saja dengan alasan memang sudah terkena penyakit darah tinggi atau kesadaran menjaga kesehatannya tinggi.

Sementara masyarakat yang tidak memiliki tensimeter tetap harus datang ke klinik atau rumah sakit sesuai jadwal dan menunggu antrean. Ironisnya kondisi ini ketidaknyamanan justru membuat tekanan darah menjadi naik dan sulit untuk memonitor secara teratur.

Menyadari hal itu, sekelompok ilmuan yang berasal di University of Rochester Medical Center, Michigan State University, dan GE Global Research, dengan dukungan pendanaan dari National Institutes of Health (NIH), memiliki gagasan menjadikan tensimeter lebih praktis, murah, efisein, dan bisa digunakan berbagai kalangan.

“Sekarang mengukur tekanan darah cukup mengambil swafoto wajah dan telapak tangan dari kamera smartphone yang di instal aplikasi khusus,” kata Lalit K. Mestha, Insinyur Senior di GE Global Research. “Setelah itu unggah video durasi 5 sampai 10 detik tersebut ke software berbasis algoritma ini, untuk diamati dan dianalisa kondisi detak jantung dan peredaran darahnya. Lantas terciptalah informasi tekanan darah yang akurat.”

Jadi sebenarnya, lanjut dia, kamera video di sebagian besar smartphone atau tablet mampu menangkap cahaya di permukaan kulit manusia dan variasi warna alami di sebuah ruangan. Cahaya yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang ini kemudian diolah algoritma dalam perangkat lunak. Proses pengolahan data tersebut hanya membutuhkan beberapa detik cuplikan close-up wajah atau telapak tanga. Sementara hasil analisa tekanan darah diambil berdasarkan pergeseran warna kulit yang tersamarkan oleh perubahan aliran darah di kulit. Hasil ini merupakan metode optimasi dari gelombang proksimal dan distal.

Gayu Seenumani, seorang Insinyur Senior di GE Global Research khusus untuk teknologi ini menyatakan, keuntungan memakai aplikasi ini adalah sesorang bisa menghemat biaya konsultasi dan pemeriksaan rawat jalan, antara USD 40 – USD 75. Aplikasi ini juga menyajikan hasil informasi yang sederhana dan mudah dibaca, selain itu pasien tak perlu repot melepas pakaian.

“Aplikasi ini akan berguna untuk pilot, supir kendaraan jarak jauh, dan para astronot,” ujar Gayu. Selain itu, aplikasi ini juga bisa digunakan juga untuk mengukur tensi bayi dan anak-anak. Karena kain pembalut tensimeter konvensional terlalu besar bagi lengan mereka. “Aplikasi ini juga membantu mengecek tekanan darah orang lanjut usia dan berkebutuhan khusus, sehingga aggota keluarganya bisa lebih mudah menjaga dan memantaunya.”

Bagi GE, kehadiran aplikasi ini bisa menjadikan perawatan dan monitoring kesehatan menjadi lebih nirkabel dan bisa berbasis cloud. “Karena dunia menjadi nirkabel dan terkoneksi,” kata Erno Muuranto, seorang Insinyur di GE Health Innovation Village di Helsinki, Finlandia, kepada GE Reports.

Dengan aplikasi ini juga, rumah sakit bisa dikelola dan dioperasikan layaknya pabrik industri canggih karena sudah memiliki sensor nirkabel. Sementara data analitiknya akan mendiagnosis pasien secara akurat, saat masih di ambulans. “Aplikasi ini akan membawa perawatan kesehatan lebih tepat dan lebih cepat untuk semuanya tanpa ada perbedaan,” tandas Erno.

Subscribe to our GE Brief