Categories
Pilih Negara
Follow Us

Premana Premadi, Memberdayakan Masyarakat Lewat Astronomi

Minat terhadap pendidikan di bidang sains terus dipacu. Baru-baru ini, Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI) bersama Newton Fund mengumumkan 11 proyek riset terkait topik seperti demam berdarah, tuberculosis, sampai kebakaran hutan; dari sekitar 50 proposal riset yang masuk dan diseleksi kelompok peneliti dari Indonesia, Inggris, dan beberapa negara lain.

“Proyek kolaboratif ini mendanai penelitian dasar yang berpotensi menghasilkan pengetahuan baru, dan DIPI juga berkontribusi mendukung komunitas sains di Indonesia agar makin menunjukkan kontribusinya di ranah global. Proyek terpilih dipertimbangkan berdasarkan keunggulan dan kebaruannya,” ujar Direktur Eksekutif DIPI, Dr. Teguh Rahardjo pada GE Reports Indonesia.

Salah satu proyek unik dari yang terpilih adalah penggunaan astronomi sebagai alat untuk capacity building di bidang sains, rekayasa teknik, dan matematika, untuk guru dan pelajar SMA di sekitar observatorium di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama kelompok peneliti University of Manchester melaksanakan pelatihan dan pengenalan astronomi dasar untuk guru dan pelajar, dengan harapan bisa memicu minat lebih tinggi terhadap bidang sains.

Seperti apa dan bagaimana detail proyek tersebut, GE Reports Indonesia berbincang dengan Dr. Premana Premadi, doktor astrofisika wanita pertama di Indonesia, dari ITB; yang juga tercatat sebagai Kepala Himpunan Astronomi Indonesia, dan anggota American Physical Society (APS).

Bisa diceritakan dulu, nilai pentingnya astronomi untuk masyarakat?

Singkatnya, ilmu astronomi itu universal dan menyentuh semua cabang MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Astronomi pun bisa mendorong inspirasi teknologi, seperti yang pada penemuan-penemuan badan antariksa di Negara lain.

Astronomi juga mengasah spiritual, sehingga meningkatkan kesadaran pemahaman alam fisis dan relasi kausal alamiah. Selain itu juga, astronomi bisa mendorong persepsi rasional terhadap lingkungan abiotik dan biotik; termasuk pada manusia, hal ini bisa menstimuli partisipasi positif dan menghaluskan akal budi.

Bagaimana upaya mendorong kesadaran terhadap ilmu tersebut, khususnya terkait proyek observatorium di Kupang?

Observatorium itu adalah fasilitas sains yang dikembangkan di Timau, Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang; dan kini dalam proses kepastian procurement. Proyek ini merupakan kolaborasi ITB, Undana, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT, dan dipimpin oleh Lembaga Antariksa Nasional (LAPAN); serta dibantu pula oleh UNAWE Indonesia, untuk berbagi pengetahuan pada penduduk setempat dan anak-anaknya, sehingga tercipta simbiosis mutualisme.

Mengapa? Karena penelitian astronomi membutuhkan kelestarian lingkungan, seperti udara yang bebas polusi udara. Misal, jika astronom ingin meneliti angkasa dengan teropong, diperlukan kondisi langit yang jernih. Langit di kawasan observatorium juga diharapkan bebas dari polusi cahaya, karena peneliti membutuhkan langit gelap yang cerah.

Kami juga berupaya agar observatorium itu nantinya tidak terganggu sinyal dari provider telekomunikasi, atau radio frekuensi, karena bisa mengganggu kinerja alat astronomi yang sensitif terhadap sinyal. Jadi, semua hal itu sangat penting dan perlu kerja sama dari warga setempat juga; maka itu dalam upaya mendorong kesadaran terhadap astronomi, kita perlu mengedukasi soal astronomi dan hal-hal yang mendukung studinya pada semua pihak yang terlibat.

Apa alasan memilih lokasi tersebut?

Karena areanya dekat sekali dengan ekuator, sehingga strategis untuk penempatan teropong. Area ini juga ideal sebagai observatorium optik, karena di Indonesia, banyak daerah yang atmosfernya tertutup awan; nah, di NTT ini, salah satu tempat dengan kondisi langit terbaik.

Apa tantangan menjalankan proyek ini?

Akses jalan menuju area ideal yang relatif sulit ditempuh. Jadi proses pembangunannya pun kompleks. Tapi nantinya, fasilitas ini akan jadi aset untuk puluhan, bahkan ratusan daerah lain di sekitarnya; seperti Observatorium Bosscha di Lembang. Harapannya, ini jadi salah satu langkah mengejar ketertinggalan kita di bidang astronomi.

image

Terkait program pemberdayaan masyarakat tadi, sejak kapan mulai dilakukan?

Programnya sendiri sudah berlangsung sejak 2015, dengan pendidikan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics). Program ini sejalan dengan pengembangan fasilitas ilmiah yang sedang dibangun. Pesertanya sendiri, mulai dari guru, pelajar, bahkan petugas pamong praja. Kami ingin sumber daya manusia lokal juga berkembang, bisa membangun diri lebih baik lagi, dan menjadi SDM profesional dengan bobot pengetahuan, keterampilan, dan astronomi sebagai muatan lokal.

Melalui pendidikan STEAM juga, kami mengajarkan cara mendapatkan sumber air bersih lewat jaruh menangkap kabut. Terkait pendidikan energi, kami mengajarkan cara mengaplikasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Dua hal ini memang cukup jadi fokus kami, karena relevan dengan penduduk setempat. Terkait PLTS, kami sudah mengirim anak-anak setempat belajar di Politeknik Negeri Kupang.

Apa peran yang bisa diambil industri untuk mendukung program ini?

Sebenarnya, banyak sekali. Bisa lewat dukungan peralatan atau teknologi, seperti pengadaan teropong 3,8mm misalnya; sebab kini produsen teropong tidak hanya membuat satu keping lensa, tapi lebih menyeluruh dan cenderung semi-otomatis; jadi bantuan pengadaan teropong akan sangat membantu.

Atau bisa juga dukungan untuk membuat grid plan yang efisien dan berlaku jangka panjang untuk sistem observatorium, karena fasilitas ini dirancang untuk jadi tempat yang dinamis, tidak statis. Kami mesti melihat teknologi yang feasible ke depan.

Atau juga, informasi dari riset-riset engineering dan teknologi pendukung seperti yang biasa dilakukan GE juga bisa membantu kami bisa melihat lebih jauh ke depan, dan agar para astronom bisa lebih mengarahkan fokusnya pada sains.

Subscribe to our GE Brief