Categories
Pilih Negara
Follow Us

Peluang dan Tantangan Teknologi 3D Printing untuk Industri Otomotif

Pengembangan teknologi manufaktur sangat berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir. Sebagai provider teknologi yang berkecimpung dalam bidang tersebut, GE pun ikut mendukung dengan menyediakan teknologi yang terdepan dan tercanggih. Satu di antara teknologi GE tersebut adalah 3D Printing.

“Bisnis dan pengembangan 3D Printing GE di bawah GE Additive,” kata CEO GE Indonesia, Handry Satriago. “Saat ini, secara market memang skala ekonominya belum sampai pada industri besar, namun kami ingin segera masuk termasuk di Indonesia.”

Keputusan itu diambil karena GE Indonesia tak mau menunggu terlalu lama untuk masuk pasar. Itu sebabnya, dalam waktu dekat, GE berencana memperkenalkan 3D Printing untuk kemudian mendorong pertumbuhan pasar. “Kami mau cepat dan coba pasarkan 3D Printing ini,” tegas Handry.

Lebih spesifik ia menjelaskan, salah satu sektor yang ia sasar menjadi market 3D Printing adalah industri otomotif di Indonesia yang memang berkembang pesat. “Ini pasar potensial dan pabrik otomotif banyak di sini. Apalagi, kami di Indonesia memang mau fokusnya memasarkan 3D printing yang berbahan dasar logam dulu. Jadi pas kalau arahnya ke manufaktur otomotif,” jelasnya.

Ditambahkannya, penawaran teknologi 3D printing telah menjadi tren dan opsi menarik untuk manufaktur otomotif dunia. Sebab para produsen mendapatkan keuntungan seperti, mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi produk / komponen mesin yang baru, mengurangi biaya R&D dan komponen lainnya, mempersingkat waktu untuk go to market.

Menanggapi hal ini, Pradipto Sugondo, Executive Officer, Research & Development Directorate PT Astra Daihatsu Motor, mengakui, teknologi 3D Printing untuk manufaktur otomotif memang lagi menjadi tren dunia. Ini bisa dibuktikan dari meningkatnya persentase sektor otomotif dunia dalam menggunakan 3D Printing.

“Kemajuan 3D Printing  sudah sangat pesat karena ke arah satu model otomotif dibuat oleh satu 3D Printing. Saya pikir arahnya (industri otomotif) kesana dan tak lama lagi di Indonesia,” kata Pradipto kepada GE Reports Indonesia

Dalam perkembangan teknologinya, ia mengaku cukup terkejut karena akurasinya sekarang bisa lebih tinggi. “Kalau dulu belum 1 milimeter sekarang bisa di atas 1 milimeter. Apalagi bukan hanya bahan plastik lagi yang di-print. Logam pun sudah di-print. Jadi sekali lagi kenapa enggak 3D print buat industri otomotif,” katanya kepada GE Reports Indonesia.

Ia pun menyatakan peluang pengembangan 3D Printing di sektor otomotif Indonesia nantinya cukup besar. Walaupun saat ini penggunaan 3D Printing di sektor otomotif masih pada mobil kelas dunia atas dan belum bisa diproduksi secara menyeluruh.

“Peluang sih ada. Tapi sekarang masih kebutuhan personalisation untuk keunikan. Termasuk untuk komponennya masih pada mobil kelas atas yang produksinya masih dibawah 100 atau 50 mobil. Tapi paling tidak sudah digunakan pada mobil premium dulu sekarang. Ke depannya kan bisa lebih baik lagi,” ujar anggota GAIKINDO ini.

Irwan Supriyono, Senior Executive Officer Service and Sparepart Hino Motor Indonesia, menyatakan, ke depan teknologi 3D printing bisa saja prospektif untuk sektor otomotif di global ataupun di Indonesia. Namun begitu, ia masih dipertanyakan kemampuannya untuk produksi massal terutama untuk spare part besar.

“Karena seperti yang kita lihat penggunaan 3D Printing masih terbatas pada mobil listrik yang mahal. Kalau untuk truk dan bus sepertinya belum ada. Ini menjadi tantangan. Walaupun saya rasa untuk kami (Hino) pemikiran pengembangan seperti sih itu ada saja,” ungkapnya kepada GE Reports Indonesia.

Yang penting, kata dia, teknologi 3D Printing harus memikirkan bagaimana bisa membawa keekonomian dalam menciptakan sebuah produk kendaraan. “Dan khusus untuk 3D Printing keakuratan pencetakannya bisa terus dikembangankan. Kita tunggu saja perkembangannya,” tukasnya.

 

Berhasil di roda

Pencetakan 3D bisa digunakan untuk membuat segala macam komponen otomotif, mulai untuk body kendaraan, hingga komponen mesin yang terbuat dari logam. Namun, salah satu bagian yang sepertinya “dianggap” para ahli tidak cocok menggunakan pencetakan 3D adalah roda.Mengapa? Karena roda adalah tumpuan beban dari kendaraan. Jadi bahan hasil cetakan pemrosesan untuk roda harus dijamin kualitas, kekuatan  dan keamanannya.

Namun keraguan ini akhirnya terpatahkan oleh proyek kolaborasi antara HRE Wheels yang berbasis di Vista, California dan GE AddWorks di Ohio. Belum lama ini, mereka bekerja sama menciptakan roda kendaraan menggunakan Electron Beam Melting (EBM).

Bahan dasar yang digunakan adalah serbuk titanium yang kemudian dicetak oleh laser 3D printing. Roda titanium tersebut dijuluki “HRE3D +”, digadang akan menjadi produk masa depan. Dikarenakan titanium memiliki kekuatan spesifik yang lebih tinggi dan ketahanan terhadap korosi dibandingkan bahan lain.

Tujuan pengembangan untuk mengurangi penghematan material. Jika menggunakan sistem konvensional  seperti menggunakan pencetakan monoblok konvensional untuk roda berbahan dasar alumunium, maka 80 persen material nantinya akan dibuang dari blok aluminium seberat 100 pon tersebut sehingga produk akhir yang terpakai sebenarnya hanya 20%. Sedangkan jika menggunakan 3D Printing maka hanya 5 persen material yang terbuang dan ini pun masih bisa di didaur ulang.

Subscribe to our GE Brief