Categories
Pilih Negara
Follow Us

Menstabilkan Pasokan Listrik PLT EBT dengan GE Grid Firming

Pemerintah mengklaim sedang gencar-gencarnya menggenjot produksi listrik dari PLT EBT (Pembangkit Listrik Tenaga Energi Baru Terbarukan). Namun, beberapa pihak menggarisbawahi kestabilan listrik dari PLT EBT karena terdapat sifat intermittent atau ketidakstabilan dalam energi tersebut. Dengan kata lain, pasokan listriknya masih tergantung kondisi alam dan cuaca.

Suryadarma, Ketua Umum, METI (Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia), meninlai, selain menggenjot kapasitas produksi dari beragam PLT EBT, pemerintah dan pemangku kepentingan lain perlu memikirkan antisipasi dari persoalan tersebut.

“Tantangannya itu seperti intermittent atau pasokan energi yang tak stabil. Maka sebelum dikembangkan sebaiknya perlu dikonsepkan secara baik dan terintegrasi untuk jangka panjang dulu,” ungkap Suryadarma kepada GE Reports Indonesia.

Di samping itu, Suryadarma menambahkan, perlu diperhatikan juga infrastruktur penunjang untuk mengatasi ketidakstabilan pasokan PLT EBT. Dengan langkah tersebut, ia berharap PLT EBT bisa bekerja secara optimal. Sebab jika tidak, dikhawatirkan investasi PLT EBT yang telah menelan biaya besar-besaran akan tidak efisien dalam life cycle-nya, tidak ekonomis, serta tidak memiliki dampak besar bagi masyarakat luas.

“Jadi semua pihak perlu duduk bareng mencari solusi apa yang kira-kira bisa mengatasinya. Teknologi yang bisa dipakai dan berapa juga biayanya. Kita perlu pikirkan dulu hal ini,” katanya.

Country Leader GE Power, George Johan, pun mengamini pendapat Suryadarma. Untuk itu, kata dia, selagi proyek PLT EBT masih fase feasibility study atau pra-project, sebaiknya perlu dipikirkan solusi dan teknologi apa yang kira-kira bisa mengatasi intermittent dari PLT EBT.

“Saya setuju kalau harus dari awal dipikirkan dulu soal intermittent ini. Namun, kalau PLT EBT-nya sudah tersedia sih bisa saja ditambahkan dan belum terlambat. Karena teknologi penunjang untuk mengatasi intermitten juga fleksibel dan bisa di aplikasikan pasca-commisioning,” kata George.

Kestabilan Grid

George menjelaskan, pembangkit berkapasitas besar seperti PLTA, PLTP, PLTU, PLTGU umumnya tak mengalami intermittent. Keuntungannya, operator tak perlu memikirkan faktor cuaca dan sebagainya, sebab pembangkitnya stabil sehingga grid operator cukup melihat fluktuasi pasokan dari demand yang naik turun saja.

“Misalnya, sebuah pembangkit demand-nya rendah bisa cukup 60% saja tak mesti 100%, tapi pasokan tetap stabil. Kalau begini operator bisa mengatur dengan mudah demand dari sisi pembangkit saja,” kata George.

Sedangkan pada pembangkit yang skalanya lebih kecil, intermiitent, dan sangat bergantung terhadap kondisi cuaca sepeti PLTS dan PLTB, maka grid operator menghadapi dua variable yang berbeda. “Yang pertama dari sisi pembangkit naik turun dan yang kedua dari sisi demand juga naik turun. Inilah yang menjadi tantangannya,” imbuhnya.

Padahal, George melanjutkan pembicaraan, stabilitas grid untuk menerima dan menyalurkan pasokan listrik merupakan faktor paling kritis bagi operator grid. Di samping itu stabilitas grid juga menjadi salah satu faktor penentu dari nilai keekonomian harga listrik. Belum lagi jika berbicara mengenai stabilitas yang juga harus bisa beradaptasi dengan grid dari pembangkit listrik yang lebih besar.

 

George lalu mengutip pernyataan, Luise Répke, dalam makalah berjudul

Pengembangan Energi Terbarukan dan Jaminan Pasokan: Analisis Trade-Off. Dari hasil studi itu disebutkan setidaknya ada tiga faktor teknis yang akan berdampak terhadap manfaat biaya produksi dan manfaat PLT EBT jika tidak memperhatikan kestabilan grid. Adapun tiga faktor tersebut, antara lain:

System Avarage Interruption Duration Index (TheSAID)

Value of lost load (The VoLL)

Value of Supply Security (The VoSS)

“Dalam studi kasus makalah tersebut adalah pengembangan PLT EBT di Jerman. Disimpulkan dalam penelitian bahwa proses transformasi ke sektor EBT dengan konsep terdesentralisasi akan menjadi mahal biayanya bagi masyarakat. Dengan demikian, operator grid dan regulator perlu menghitung semua pertimbangan ekonomis untuk pengembangan PLT,” katanya.

“Sehingga pegembangan PLT EBT harusnya didukung juga oleh penjamin pasokan listrik seperti system reliability. Nah, kita bisa menggunakan teknologi grid firming,” George menambahkan pembicaraan.

 

Lantas apa itu grid firming?

Grid firming merupakan suatu solusi mengatasi ketidakstabilan sumber energi dari PLT EBT dari PLTB, PLTS dan Small Hydro, akibat kapasitas produksi yang masih rendah dan tak menentu. Jika tidak menggunakan grid firming, PLT EBT akan tidak mempuyai fleksibilitas dan jaminan pasokan listrik sehingga dikhawatirkan tidak ada atau banyak manfaatnya.

George mengungkapkan, GE mempunyai tiga tipe solusi untuk gird firming. Pertama adalah solusi gas turbin dengan dukungan produk aeroderivative, dan industrial heavy duty. Kedua yaitu tipe open cycle atau simple cycle, sementara ketiga tipe hybrid, yaitu kombinasi storage dengan baterai.

Dari semua tipe solusi tersebut, bisa dipilih kesesuaian tipe berdasarkan fluktuasi grid, kondisi alam, dan kapasitas produksi PLT EBT itu sendiri. Misalnya, jika ukuran grid kecil , tipe yang terbaik untuk digunakan adalah open cycle dan simple cycle. Kalau untuk grid besar seperti Jawa Bali, yang paling baik adalah combine cycle.

“Dan kalau kapasitas yang lebih kecil bisa pakai turbin aeroderivative ataupun hybrid dengan baterai. Prinsipnya GE siap melayani untuk mencari solusi kestabilan grid ini dengan berbagai kondisi yang ada,” kata George.

Subscribe to our GE Brief