Categories
Pilih Negara
Follow Us

Mengoptimalkan Peran Energi Gas dan EBT

Kebutuhan energi Indonesia rata-rata 7 % per tahun, yang mana terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, penduduk, standar hidup, dan sebagainya. Untuk memenuhi energinya, Indonesia masih sangat tergantung kepada energi fosil sekitar 94% dan sisanya 6% dipasok oleh Energi Baru Terbarukan (EBT).

Jalal, Aktifis Lingkungan dari CSRI, menyayangkan masih kecilnya pasokan listrik dari PLT EBT (Pembangkit Listrik Tenaga Energi Baru Terbarukan) di Indonesia. “Padahal tren penggunaan energi dunia telah bergeser ke arah technology based energy dibandingkan resource based energy atau energi fosil,” kata dia.

Tren itu sendiri timbul sebagai dampak menipisnya jumlah persediaan energi fosil setelah sekian lama dieksploitasi. Selain itu, diperlukan tingkat teknologi yang lebih tinggi  dan mahal untuk  mengekplorasi keberadaan sumber daya energi fosil, bila memang masih ada.

“Jadi mau tak mau, lebih baik PLT EBT dioptimalkan dengan serius terutama dalam bauran optimum energy mix yang memanfaatkan semua jenis energi tanpa diskriminatif dan tanpa perlu menunggu jenis energi lain menipis,” katanya kepada gereports belum lama ini di Jakarta.

Lebih lanjut, Jalal berpendapat PLT EBT sangat perlu dioptimalkan. Sebab teknologi ini lebih ramah lingkungan dan sedikit menghasilkan CO2, sehingga menjadi bagian dari solusi masa depan. “Dengan PLT EBT, kita juga tidak akan melakukan penambangan ekstensif yang menyebabkan hujan asam, atau menghasilkan racun logam berat seperti arsenik, kadmium, merkuri dan timah hitam yang beracun sepanjang masa.”

Terkait perubahan iklim, Jalal berpendapat, Indonesia sebenarnya sudah mempunyai peran panting memimpin dunia menuju pembangunan rendah karbon. Apalagi Indonesia merupakan anggota G20, sehingga ikut bertanggung jawab terhadap 75% emisi global dan menurunkan gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030. Sementara berdasarkan Brown to Green Report 2017 yang diluncurkan oleh Climate Transparency, negara-negara G20 telah memulal transisi menuju ekonomi rendah karbon. “Tapi ini masih harus ditambah terus. Jadi EBT harus dibumikan,” kata dia.

Di sisi lain, tak bisa ditampik bahwa masih ada beberapa kendala jika ingin menerapkan PLT EBT secara dominan. Di antaranya, PLT EBT dianggap masih bersifat lokal, sangat bergantung pada kondisi alam, daya yang dihasilkan relatif kecil, belum mencapai skala ekonomis, dan bila tersambung dengan grid masih membutuhkan unit baseload dari pembangkit listrik lain.

Charles McConnell, Executive Director, Rice University Energy and Environment Initiative, berpendapat, bahwa sumber energi fosil lain seperti gas masih sangat dibutuhkan dunia hingga 50 tahun ke depan. Ini sesuai dengan proyeksi International Energy Agency, yang nilai pasokannya bisa sekitar 80%  karena oversupply.

“Memang pengembangan PLT EBT di dunia itu penting, namun pembangkit listrik dari sumber energi gas masih menjadi kunci untuk pasokan yang berkeberlanjutan,” katanya.

Alasannya, kata Charles, energi gas masih tetap akan dicari oleh konsumen dari berbagai negara karena dianggap lebih bisa menjamin beban puncak pasokan listrik. Selain itu, PLT-gas dianggap enabler, stabil, dan pasokannya lebih terjamin. PLT-gas juga dianggap solusi bagi pembaharuan proyek pembangkit listrik dari energi sebelumnya seperti batubara. Ini dikarenakan PLT-gas lebih ramah lingkungan dan mempunyai efisiensi panas yang tinggi.

“Apalagi saat ini berbagai inovasi teknologi telah membuat PLT-gas lebih efisien mengurangi biaya produksi termasuk dalam menekan emisi gas buang,” katanya.

Charles mengakui bahwa penyebaran PLT EBT secara signifikan bisa mendukung ketersediaan akses energi. PLT EBT juga bisa menciptakan lingkungan yang lebih bersih. Tapi dunia membutuhkan integrasi optimal dari semua pilihan energi tersebut, bukan hanya satu pilihan saja. Optimalisasi PLT EBT ini hanya bisa tercapai jika kapasitas yang diperlukan ditambah, pasokannya terjamin dan terdapat fleksibilitas sistem.

Jadi ia berpendapat, penyebaran masal PLT EBT harus didukung PLT-gas di sekitarnya agar bisa saling membantu jika mencapai beban puncak listrik serta mengatasi intermittent. Dengan integrasi PLT EBT dan PLT-gas, maka secara sistematis dan menyeluruh bisa tercapai tambahan akses listrik dengan biaya pokok yang terjangkau dan kompetitif.

Jika starteginya dengan cara hanya memaksakan EBT ke dalam bauran energi tanpa pertimbangan yang matang dan menyeluruh, akan berdampak pada efektivitasnya. Contoh kasus adalah portofolio standar EBT yang terlalu dipaksakan oleh Eropa yang menginginkan penurunan pasokan listrik dari PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) yang berbahan bakar batubara hingga 20%.

“Akibatnya Eropa mendapatkan kendala pasokan dan tantangan biaya listrik. Ini adalah fakta yang ada walau bukan cerita yang bagus,” ungkap Charles.

Charles menyatakan bahwa harusnya kesinambungan pasokan energi suatu negara berlandaskan pada tiga pilar yang penting dan saling berkaitan, yaitu; akses, harga yang terjangkau dan tanggung jawab lingkungan.

“Jadi, bagaimana dengan masa depan kita? Memang dekarbonisasi adalah isu kritis dunia saat ini. Tapi saya tidak percaya bahwa hanya pengurangan CO2 adalah akar tujuan dari masalah lingkungan,” kata Charles. “Kita lihat masih ada tantangan lain yang harus dibahas dengan menggunakan strategi yang komprehensif. Intinya jangan terburu-buru dan sampai terlalu dramatis akan hal ini. Kita harus coba jujur dan bijaksana dalam mewujudkan ketahanan energi yang lebih baik.”

Subscribe to our GE Brief