Categories
Pilih Negara
Follow Us

Mengajak Anak Muda Berperan Besar di Sektor EBT

GE bersama Icare Indonesia, sebuah organisasi pemuda, menyelenggarakan acara Renewable Energy Camp di Kantor GE, Sentral Senayan, Jakarta Pusat, belum lama ini. Menurut Ketua Umum Icare Indonesia, Priyatna Suryawijaya, acara ini diharapkan menjadi wadah generasi muda untuk lebih berperan aktif dalam EBT (Energi Baru Terbarukan). Dengan begitu, para anak muda bisa mempunyai ide-ide kreatif inovatif terkait perkembangannya dan juga siap menjadi SDM (sumber daya manusia) yang andal untuk sektor EBT ke depan.

“Kaum muda Indonesia baik dari kalangan pelajar, mahasiswa, ataupun pekerja harus diajak berperan aktif dalam membangun sektor ketenagalistrikan, khususnya dari sumber EBT,” kata Priyatna. “Kami kerap meminta para pelaku industri ikut serta dalam Renewable Energy Camp, sehingga peserta memperoleh banyak ilmu. Alhamdulillah, GE salah satu yang antusias membantu kami dalam kegiatan ini.”

Dari berbagai kegiatan, Priyatna menambahkan, banyak pemuda tergerak ikut menyosialisasikan pentingnya EBT ke masyarakat.  Meski tidak memperoleh upah, mereka bersemangat untuk berbagi ilmu tentang EBT.
“Mereka sampai membuat komik tentang EBT untuk anak SD, dan hingga sekarang sudah ada tiga judul,” ujarnya. “Mereka juga melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah, membagikan komik itu pada siswa SD di Jakarta, Sulawesi Tengah, dan sebagainya. Pengenalan lebih dini terhadap EBT memang tujuan kami.”
Saking antusiasnya pada EBT, para pemuda yang tergabung dalam Icare juga membuat pembangkit listrik sendiri. Yang paling sederhana dibuat oleh mereka, katanya, adalah solar panel yang bisa  dirakit dan diterapkan di rumah sendiri. Selain itu, investasi solar panel ini juga tidak terlalu besar. “Yakni berkisar Rp20 juta per kwh, dengan perkiraan lima tahun sudah bisa balik modal,” katanya.

Renewable Energy Camp (REC) sendiri merupakan suatu rangkaian kegiatan pembekalan energi terbarukan untuk anak-anak muda, yang digelar selama 3 hari. Selain di Kantor GE, REC diselenggarakan di Sentul, Bogor. Pada kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi dari enam keynote speakers yang terdiri dari: Handry Satriago (GE Indonesia), Ida Nuryatin (ESDM), Tri Mumpuni (EBTKE), Fabby Tumiwa (IESR), Nur Pamudji (PPLSA), dan Ahmad Kalla (Pengusaha).

Peserta juga mendapatkan kelas khusus yang dibagi menjadi kelas: angin, air, matahari dan bioenergi. Selain kelas materi, peserta akan dibagi menjadi 10 kelompok, masing-masing berisi 10 orang, untuk melakukan diskusi dan memecahkan suatu case studyCase study ini bertujuan untuk memberikan solusi bagi suatu daerah yang tidak memiliki akses energi namun memiliki potensi energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan.

image

Mengapa Harus EBT?

Menurut Direktur Panasbumi Kementerian ESDM, Ida Nuryatin Finahari, pemerintah memiliki rencana besar akan sektor ini. “Sebab EBT adalah energi masa depan Indonesia dengan potensi sekitar 441,7 GW,” kata Ida. “Bahkan berbagai negara menyatakan bahwa Indonesia merupakan lumbung EBT. Mulai dari sumber energi biomassa, biogas, air, angin, matahari, panasbumi, sampai arus laut, semuanya ada di Indonesia.”

Hanya saja, pemanfaatan EBT belum maksimal. Karena saat ini, realisasinya baru mencapai 9,07 GW atau sekitar 2% dari total yang ada. Itu sebabnya, sektor EBT memerlukan dukungan dari berbagai pihak. “Toh, pemerintah dan dunia usaha tidak bisa bergerak sendiri untuk mewujudkan semua rencana tentang EBT,” ujarnya.

Ida meneruskan, pengembangan EBT membutuhkan waktu panjang, biaya mahal, dan tahapan pengembangan yang terencana dengan baik. Untuk itulah diperlukan keterlibatan dan peran anak muda dalam sektor EBT. “Pemerintah berharap dengan dukungan pemuda yang sadar energi, maka kemandirian energi bangsa bisa terjaga dan juga mendapat solusi dari penambahan cadangan energi,” ujarnya.

Untuk terlibat dalam EBT, para anak muda bisa mulai dengan mencoba mengenal dan mempelajari sektor ini. Dengan begitu, Indonesia akan memiliki SDM yang cukup mumpuni. Lebih dalam, mereka bisa mulai terjun dalam pengembangan dan inovasi teknologi EBT. “Ini menjadi penting karena beberapa komponen masih di impor,” kata Ida. “Tapi pengembangan ini juga mempertimbangkan efisiensi teknologinya sendiri sehingga harganya terjangkau untuk masyarakat.”

Di sisi lain, CEO GE Indonesia, Handry Satriago mengatakan, meningkatnya potensi di sektor EBT akan membuka kesempatan berkarir ataupun bisnis EBT lebih besar. Sebab investor dalam dan luar negeri memerlukan banyak tenaga EBT, terutama untuk ditempatkan di sejumlah daerah yang potensi EBT-nya besar.

“Sudah banyak jurusan kuliah yang terkait dengan sektor EBT sekarang. Sementara untuk adik-adik yang memilih jurusan kuliah di luar sektor EBT, masih bisa berkecimpung saja melalui NGO,“ kata Handry.

Subscribe to our GE Brief