Categories
Pilih Negara
Follow Us

Komitmen Pertamina Power Indonesia dan GE di Bisnis Pembangkit Listrik

PT Pertamina (Persero) dalam dua tahun belakangan ini telah melebarkan sayapnya kepada bisnis power. Untuk itu, Pertamina mendirikan PT Pertamina Power Indonesia (PPI) yang bergerak di bidang power yang berbasis clean energy.

 Clean energy yang dimaksud di sini adalah pembangkit dengan Gas Based IPP dan New & Renewable Energy.

Ginanjar, Presiden Direktur PT Pertamina Power Indonesia (PPI) dan PT Jawa Satu Power (JSP) menyatakan, skema PPI tidak bermain dalam bisnis Coal Based Power Plant.

Untuk menjalankan bisnis power ini, PPI menetapkan filosofinya berdasarkan tiga nilai:

  1. Alignmentdengan strategi korporasi, dalam hal ini PT Pertamina (Persero).
  2. Komitmen terhadap pengembangan dan ketahanan energi nasional
  3. Business Ethics & Partnership

 

Saat ini, proyek yang ditekuni oleh PPI ada proyek Gas Based IPP (IPP Jawa-1 dan IPP Bangladesh) serta proyek-proyek NRE yang berbasis tenaga Surya (Solar PV) dan tenaga angin. Untuk Gas Based IPP sendiri, ada PLTGU Jawa 1 yang berkapasitas 1760 MW.

Sementara di Bangladesh, PPI punya proyek berkapasitas 1200-1400 MW. Kedua proyek ini menggunakan konsep yang sama, yaitu terintegrasi dengan FSRU (Floating Storage and Regasification Unit). Selain itu, kedua proyek tersebut juga menggunakan teknologi GE khususnya untuk turbin 9HA.

 

“Mengapa partnership? Karena kami percaya bahwa setiap pemain memiliki kompetensi dan saling memerlukan mitra yang handal dan terpercaya agar bisnis yang ditekuni dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat kepada para stakeholder,” kata Ginanjar kepada GE Reports Indonesia di kantornya.

Untuk menggali lebih jauh, kita ikuti wawancara khusus berikut ini.

 

GR (GE Reports) : Bagaimana Pertamina bisa masuk ke bisnis pembangkit listrik?

G (Ginanjar): Pada 2012, Pertamina mencanangkan masuk ke bisnis pembangkit listrik dengan kemudian mengikuti tender PLTGU Jawa 1. Pertamina akhirnya memenangkan tender tersebut yang diikuti oleh 10 konsorsium yang beranggotakan para pemain internasional. Bagi Pertamina, di luar bisnis PT PGE (Pertamina Gothermal Energi), ini pertama kalinya masuk bisnis pembangkit listrik melalui open market competition.

 

GR : Jadi ini first IPP (Independent Power Producer)?

G : Ya benar. Bagi Pertamina, keikutsertaan dalam bisnis power bertujuan untuk meng-extent business value chain, sehingga investasi Pertamina di value chain bisnis gas menjadi lebih terkoordinasi dan memiliki tingkat kepastian yang tinggi. Yang harus digarisbawahi, masuknya Pertamina ke bisnis power bukan berarti bersaing dengan PLN. Justru Pertamina mendukung konsep dan pola bisnis power yang dikelola oleh PLN dengan menjadi salah satu pemain di bisnis IPP di Indonesia. Bisnis ini memang baru bagi Pertamina dengan karakteristik market, serta para pemain yang juga baru bagi Pertamina.

 

GR : Bisa dijelaskan proyek PLTGU Jawa 1?

G : Proyek ini berkapasitas 1760 MW terintegrasi storage, FSRU dan pembangkit listrik. FSRU akan mampu menampung LNG sebanyak 170 ribu metrik ton dan bisa menyalurkan gas 300 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Proyek yang ditargetkan beroperasi pada 2021 itu akan menjadi PLTGU terbesar di Asia Tenggara dan kedua di dunia yang mengintegrasikan dengan FSRU. Kombinasi dan kapabilitas anggota konsorsium sudah sejalan karena FSRU bukan hal baru bagi Pertamina, sedangkan Marubeni merupakan pemain di bisnis power.

 

GR : Tantangannya?

G : Tantangan utamanya adalah alignment, mulai dari internal alignment di antara sponsor, alignment antara sponsor dengan supporting partner seperti EPC (GE, Samsung dan Meindo), serta alignment dengan lingkungan bisnisnya seperti lenders, dan tentunya dengan pihak terkait lainnya.

 

GR : Lalu bagaimana dengan proyek di Bangladesh?

G : Pertamina memiliki visi untuk berbisnis di ranah international salah satunya dalam bisnis power. Dengan konsep yang kurang lebih sama seperti PLTGU Jawa 1, di sana kami juga mengerjakan proyek listrik terintegrasi Combined Cycle Gas Turbine (CCGT) Power Plant kapasitas 1200-1400 MW yang terhubung dengan fasilitas penerima LNG yang terdiri dari FSRU, infrastruktur mooring dan off loading, serta jalur pipa gas baik subsea maupun onshore.

Konsep sebetulnya sudah teruji dan dengan partner yang sama. Yang membedakan adalah playing field-nya. Jika di Jawa-1 dengan mekanisme open tender. Nah, di Bangladesh mekanismenya adalah unsolicited proposal. Konsekuensinya, konsorsium kami harus lebih proaktif mengingat tata waktu untuk mendapatkan kepastian proyek ini menjadi open-ended.

 

GR : Apa peran GE?

G : GE di sini juga terlibat sebagai anggota konsorsium bersama-sama dengan Marubeni dan satu lokal partner dari Bangladesh. Sementara ini, teknologi yang kami usulkan ke pihak Bangladesh adalah mesin GE dengan teknologi 9HA. Untuk ini, kami juga bekerja sama dengan GE Indonesia untuk berkoordinasi dengan GE South Asia.
Sistem pemantauan terhadap pembangkit PLTGU yang dilakukan oleh GE Monitoring and Diagnostic (M&D) Center menurut saya bagus, karena pemantauan dapat dilakukan secara online sehingga sangat memungkinkan monitor operasi & kinerja secara real time dan jika tidak dalam keadaan mendesak, juga tidak perlu untuk datang ke site.
Pada saat troubleshooting, kita juga bisa mengantisipasi dengan preventive maintenance. Intinya pemilihan teknologi GE dilakukan dengan cara yang prudent baik itu biaya dan total cost, efisiensi maupun performa. Kita sudah kalkulasi semuanya termasuk emisi karena ini penting bagi PPI.

GR : Mengapa penting?

G : Karena PPI hanya berbisnis di clean energy, yang mana PPI mendukung dan berkomitmen pada lingkungan bersih. Kami melihat 5 tahun ke depan tekanan masyarakat mengenai lingkungan sudah sangat keras.

 

GR : Jadi PPI baru 2 proyek saja?

G : Tidak, sebenarnya kami sekarang memiliki total 20 proyek, 18 NRE yang di antaranya merupakan PLTS, PLTBGs, PLTBM, dan 2 Combined Cycle. Padahal SDM kita hanya 27 orang, sehingga 1 orang di PPI harus menangani 3 proyek.

 

Subscribe to our GE Brief