Categories
Pilih Negara
Follow Us

Komitmen GE untuk Menerangi Indonesia di Berbagai Kondisi

Kiprah teknologi GE untuk ketenagalistrikan sudah berjalan lebih dari 70 tahun di Indonesia. Menurut David Hutagalung, Country Director GE Power Indonesia, di antara satu pertiga installed based atau sekitar 8000 MW untuk teknologi pembangkitan lisrik Indonesia baik dari PLN atau Independent Power Producer (IPP) adalah menggunakan teknologi GE.

“Angka tersebut digabungkan dengan kiprah Alstom dari awal, yang mana pada tahun lalu GE telah mengakuisisi Alstom,” kata pria jebolan Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia ini.

Lantas bagaimana GE Power menjawab isu perkembangan proyek listrik 35.000 MW dan komitmen menerangi Indonesia ke depan? Kita ikuti perbincangannya.

Pertama, apa yang selalu tekankan untuk membantu menerangi Indonesia?

Dari awal kita menawarkan teknologi dan solusi yang lebih efisien, lebih terjangkau, lebih dapat diandalkan, dan lebih berkelanjutan dalam pembangkitan tenaga listrik dan pendistribusiannya. Teknologinya mulai dari gas turbin, gas engine, hidro, dan lain-lain. GE menyediakan teknologi pembangkitan berkapasitas 1 MW hingga 800 MW per unit. Untuk solusi kita punya yang komperhensif, holistic atau end-to-end. Jadi GE tidak hanya memasok teknologi canggihnya, namun juga berpartisipasi aktif membantu after service, technical advisor, hingga ketersediaan spare parts. Ini bisa menyelesaikan masalah ketenagalistrikan dari hulu sampai hilir bagi pelanggan kami. Bahkan sekarang GE ada juga solusi pembiayaan dan long term service agreement melalui export credit agencies dengan syarat dan ketentuan yang bisa diterima.

Bagaimana Anda melihat perkembangan proyek 35.000 MW?

Pertama saya lihat sejak awal proyek ini bagus. Indonesia membutuhkan infrastruktur listrik demi mencapai tujuan ekonomi dan sosial berkelanjutan negara. Dari sisi marketing strategy ini sangat sangat baik karena berbagai pihak dari mulai PLN, EPC, Lembaga Pembiayaan dan perusahaan teknologi provider seperti kami sangat antusias. Terkait targetnya, saya rasa realistis juga dengan asumsi rata-rata target kapasitas pembangkit Indonesia per tahun adalah 500 sampai 700 MW. Lalu jika dikalikan 5 tahun maka angkanya sekitar itu. Saya rasa ini bagus, optimistis dan akan menciptakan multiplier efek pada industri dan perdagangan. Dan dari proyek ini diharapkan asumsi pertumbuhan ekonominya adalah 7% pada tahun 2018 lalu.

Tapi pemerintah sendiri di beberapa media menyatakan proyek ini ada yang tak sesuai ditargetkan? Termasuk asumsi pertumbuhannya tahun lalu sekitar 5%?

Memang dalam perjalanannya proyek ini tidak 100% sesuai yang direncanakan. Terkadang terjadi di dalam proyek besar di Negara mana pun. Untuk itu pemerintah pun mencoba menyesuaikan berbagai cara agar ini tetap jalan dan sesuai rencana. Soal pertumbuhan 5% kita rasa sudah lumayan. Yang penting kami sebagai pemain mengapresiasi sambil terus ikut memperbaiki agar jangan terjadi opportunity lost. Karena GE punya komitmen menerangi Indonesia dengan berbagai kondisi baik itu senang ataupun susah. Ini sudah terbukti dalam sejarah dan menjadi tinta emas dalam buku catatan kami.

Apa kesuksesan GE di Proyek 35.000 MW?

Di antaranya kesuksesan yang kita raih dalam proyek ini. Mungkin dari total kapasitas yang digabungkan antara PLTGU Jawa 1, PLTU Riau, PLTU Tambak Lorok. Terus ada juga 8 Proyek MPP (Mobile Power Plant) dan sebagainya sudah bisa dihitung GE menyumbang 4 Gigawatt, dengan catatan ini ada yang masih konstruksi.

Bagaimana pada pembangkit listrik milik swasta?

Tentu dua-duanya kita dukung. GE pun melihat ada hal-hal yang selalu bisa lakukan untuk mempercepat proses walau tanpa menghilangkan peran pemerintah. Selain itu, swasta di captive power, yang mana untuk kebutuhan industri itu sendiri juga kita targetkan. Kita tawarkan pada yang sesuai kebutuhan industrinya. Jadi GE juga siap untuk mendukung kawasan berikat industri asal masuk skal utility-nya.

Menurut Anda apa tantangan menerangi Indonesia?

Tantangan utama terhadap kebutuhan pembangkit dan transmisi tenaga listrik Indonesia cukup unik, mengingat negara kita adalah kepulauan, yang mana penyebaran populasi penduduk dan tingkat pembangunan belum merata, terlebih di daerah-daerah terpencil.

Mengenai tren ke depan?

Studi terbaru oleh GE menunjukkan, dunia sedang bertransisi dari sistem kelistrikan berdasarkan teknologi pusat pembangkitan, transmisi dan distribusi (T & D) generasi tradisional, ke sistem yang merangkul teknologi baru, berbasis digital dan ramah lingkungan. Sistem energi global berkembang menuju jaringan terpadu dan hibridisasi yang memadukan unsur-unsur teknologi lama dan baru yang bekerja secara sinergis untuk menyediakan tenaga listrik yang dapat diandalkan, terjangkau, dan berkelanjutan untuk pabrik, bisnis, dan masyarakat di seluruh dunia.

Selama beberapa dekade ke depan, pembangkit listrik yang besar dan berada di pusat akan menjadi semakin efisien. Selain itu, mereka akan dilengkapi dengan sistem perangkat keras dan perangkat lunak baru, yang sering kali lebih kecil, yang didistribusikan ke seluruh sistem T & D.

Pada saat yang sama, alat digital akan semakin terintegrasi dengan teknologi di seluruh jaringan listrik. Adopsi teknologi digital terbaru akan meningkatkan dan mengoptimalkan aset dan jaringan energi Indonesia, dikombinasikan dengan penerapan turbin gas paling efisien atau menggunakan teknologi batu bara ultra-super critical, atau mengupgrade pembangkit listrik yang sudah ada berikut jaringan transmisi dan distribusinya. Nantinya Indonesia dapat melakukan penghematan atau efisiensi substansial sekaligus pengurangan emisi karbon besar-besaran.

Bagaimana prospek tahun 2019 ini menurut Anda?

Saya kira akan tetap menarik apalagi kita tahu masih ada lanjutan untuk menyelesaikan proyek 35.000 MW. Berbagai pihak juga telah memahami pentingnya listrik bagi kehidupan.

Indonesia pernah punya pengalaman buruk soal program listrik sebelumnya dimana ada yang mangkrak? Tanggapan Anda.

Saya tidak bisa mengomentari secara keseluruhan. Intinya kami adalah longterm player bukan yang sekedar hit and run di Indonesia. Jadi GE ada keterikatan emosional dan sejarah panjang di sini. Dari sisi teknologi, kita sudah bisa membuktikan bahwa yang telah dipakai sangat andal, begitu juga teknologi yang baru kita pasarkan. GE tidak mengenal istilah produk kualitas KW karena produk yang ditawarkan merupakan kualitas nomer satu di dunia, yang mana telah mengalami proses pengujian yang sangat ketat dan canggih.

Subscribe to our GE Brief