Categories
Pilih Negara
Follow Us

Handry Satriago, Antara Kepemimpinan dan Konsep Usang Anak Buah

Membahas soal kepemimpinan di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) seperti  sekarang memang tak akan ada habisnya. Beragam teori dan kajian dari berbagai praktisi, motivator, hingga ilmuan terus bermunculan. Tak terkecuali dari pandangan yang diungkapkan Handry Satriago, seorang CEO termuda yang memimpin GE Indonesia.

Dalam beberapa kesempatan acara, Handry Satriago, yang sering didaulat sebagai motivator, memang sering kali berusaha “menularkan” jiwa kepemimpinan yang bisa mengikuti zaman, namun tetap memiliki karismatik tinggi. Menurut dia, sebaiknya seorang pemimpin dapat terus mengikuti perkembangan zaman dan tidak terlalu mengutamakan sifat paternalistik, militeristik, hingga otokratis.

Kini, berbagai hal tersebut kembali diungkapkan Handry Satriago, saat ia menjadi pembicara di Boston, Amerika Serikat, dalam diskusi bertema Leadership & Global Talent Development in Indonesia, 22 Januari 2019. Acara ini diselenggarakan khusus oleh Indonesian Community of New England, Inc. (ICONE,Inc.) , sebuah organisasi nirlaba yang menaungi beragam kegiatan kemasyarakatan Indonesia-Amerika di Boston, AS.

Dalam acara tersebut, Handry Satriago mengatakan, pemimpin saat ini perlu menerapkan  prinsip kepemimpinan yang modern, memiliki kepercayaan diri untuk berkompetisi, mau belajar dari kesalahan, pantang menyerah, dan selalu membuat patokan prioritas dalam bertindak. Menurut dia, hal tersebut akan menjadi faktor penting untuk meraih kesuksesan dalam persaingan dunia kerja yang sangat ketat seperti era sekarang.

“Inilah kepemimpinan jaman now,” kata Handry Satriago, saat mengistilahkan penjabarannya mengenai sifat pemimpin tersebut kepada peserta acara diskusi.

Konsep usang “anak buah”

Salah satu pembahasan yang menarik ketika Handry Satriago menyatakan konsep “anak buah” saat ini sudah tidak berlaku lagi dalam dunia kerja modern. Menurut dia, konsep tersebut sudah tidak cocok diterapkan karena merupakan definisi dan pola pikir lama dalam memandang bawahan.

Jika diterapkan, suami Dinar Putri Sriardani Sambodja tersebut mengatakan, hal itu justru dapat menghambat pengembangan talenta di Indonesia karena anggota organisasi nantinya hanya cenderung mengikuti perintah atasan tanpa berpikir dua kali, serta tidak berani untuk menjadi kreatif serta kurang percaya diri.

“Jadi, dengan kata lain, pemimpin tidak boleh merasa hebat sendiri. Ia harus mau bertanya dan melihat bawahannya adalah teman melaksanakan tujuan, bukan dianggap anak buah. Lagi pula tidak ada di ilmu manajemen mana pun istilah itu. Dalam bahasa Inggris pun tidak bisa. Fruit child gitu kan enggak cocok,” kata Handry Satriago.

Adapun secara keseluruhan, acara diskusi Leadership & Global Talent Development in Indonesia berlangsung sangat menarik. Co-founder dan Presiden ICONE Inc, Olla Chas, pun berharap, diskusi terbuka dengan praktisi-praktisi usaha seperti Handry tersebut dapat menginspirasi kalangan mahasiswa dan profesional Indonesia di Boston.

“(Semoga) tidak pernah berhenti menggali potensi mereka dan nantinya dapat berkontribusi dalam kemajuan Indonesia di berbagai bidang,” kata Olla, dikutip dari Icone-inc.org.

Contoh pemimpin sukses di era digital

Handry Satriago merupakan satu di antara contoh pemimpin sukses saat berkarier di GE Indonesia. Berbagai contoh sifat pemimpin yang selalu ia ungkapkan dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam acara diskusi di Boston, kerap ia terapkan saat bekerja. Satu di antaranya adalah mengenai menjadi pemimpin yang tidak “out the date”, dalam hal ini teknologi digitalisasi yang saat ini sedang menjadi digarap serius oleh GE.

Menurut Handry Satriago, GE Digital saat ini berusaha mendekatkan manusia dengan mesin sehingga proses adaptif akan berbagai teknologi baru akan terus digodok demi mendapatkan hasil maksimal dalam setiap prosesnya. “Kami biasanya menjadi big iron company, tapi sekarang kami juga bisa dibilang menjadi big data company,” kata Handry.

Oleh karenanya, sejalan dengan perubahan bisnis perusahaan tersebut, menurut Handry Satriago, sumber daya manusianya juga harus diubah agar hasilnya dapat optimal. Ia pun mengaku tidak pernah menutup kesempatan kepada anak-anak muda untuk belajar lebih lama dan melakukan kesalahan jika didaulat menjadi pemimpin.

“Kami percaya dengan konsep, you hire the best people, train them like hell. Tapi, setelah itu, biarkan dia mendapat kesempatan, let them make mistake. Kesalahan bukanlah suatu kegagalan karena di situlah seorang pemimpin berperan untuk membimbing bawahannya belajar dan bekerja agar lebih baik lagi,” kata Handry Satriago.

Subscribe to our GE Brief