Categories
Pilih Negara
Follow Us

George Djohan: Tantangan dan Strategi Ketenagalistrikan Indonesia

Indonesia sedang menghadapi tantangan di bidang ketenagalistrikan. Namun, tantangan ini bisa diatasi dengan menerapkan strategi yang tepat untuk menyeimbangkan kemampuan bersaing demi keterjangkauan, keandalan, dan keberlanjutan. Hal itu diungkapkan George Djohan, Country Leader GE Gas Power System Indonesia.

“Dari strategi yang tepat, kita bisa mencapai penghematan 50 miliar dolar AS, dengan pengurangan CO2 lebih dari 80 juta ton per tahun,” tuturnya dalam jumpa pers, disela acara Indonesia Energy Day, di Kementerian ESDM, Januari kemarin.

Diungkapkannya, bahwa strategi bisa dilakukan lewat berbagai terobosan teknologi ketenagalistrikan terbaru. Untuk mendorong strategi itu, ada tiga cara utama agar hasilnya maksimal; yaitu, keterjangkauan, keandalan, dan keberlanjutan. Walaupun memang, tiap solusi pengembangan memiliki implikasi finansial, ekonomi, dan sosial.

“Jika efisiensi aset ketenagalistrikaan yang ada bisa dimaksimalkan, maka Indonesia bisa melakukan penghematan sampai miliaran dolar AS, sekaligus menekan emisi karbon yang signifikan,” imbuhnya.

Efisiensi ini bisa fokus pada pemanfaatan gas turbin yang paling efisien, teknologi batubara ultra-super critical, teknologi terbaru pada turbin angin dan solar PV; serta retrofit pembangkit listrik, transmisi, dan jaringan distribusi yang ada.

Untuk keterlibatan GE dalam proses retrofit pembangkit tenaga listrik, adalah revitalisasi tingkat keandalan dan mengurangi biaya pembangkit. Retrofit ini telah membuat perlindungan terhadap investasi yang dilakukan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) atau produsen listrik swasta pada infrastruktur sebelumnya.

Dengan retrofit ini, tidak diperlukan lagi investasi tambahan untuk jaringan transmisi dan cabang gardu baru, karena memang sudah ada. Selain itu pula, tidak perlu ada penundaan terkait pembaruan izin operasional, karena bisa dilanjutkan dari yang berjalan sebelumnya.

Salah satu contoh peran retrofit dengan produk GE bisa dilihat pada pembangkit listrik miliki anak perusahaan PT PLN (Persero), yaitu PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) dan PT Indonesia Power. “Penggunaan gas turbin GE 9HA.02 di PLTGU Tambak Lorok, Semarang, berpotensi menghasilkan efisiensi sebesar 400 juta dolar AS selama 25 tahun operasi,” ungkap George.

Ditambahkannya, GE 9HA.02 adalah gas turbin terbesar dan paling efisien di dunia saat ini. Gas turbin ini berhasil meningkatkan output, yaitu lebih dari 510MW per unit, dengan konsumsi gas per MW yang jauh lebih sedikit dibandingkan turbin lain.

Produk ini akan menekan biaya listrik di pembangkit tersebut ketika mulai beroperasi pada 2020, dan diperkirakan bisa menambah sekitar 780MW listrik ke total jaringan di Indonesia; atau sama dengan jumlah energi yang dibutuhkan untuk memasok listrik untuk sekitar lima juta rumah di Indonesia.

EBT dan digitalisasi Gardu Induk

GE juga menyadari bahwa banyak himbauan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, dan menekan emisi. Maka itu, GE berkomitmen untuk mendukung peningkatan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025 nanti. Secara global, kata George, GE telah memasang lebih dari 400GW kapasitas pembangkit tenaga listrik, dengan sumber energi baru terbarukan.

“Berbagai solusi hemat energi komprehensif kami meliputi energi limbah, biomassa, biogas, angin, tenaga surya, hidro, dan hibrida. Apapun jenis pembangkitnya, GE menawarkan solusi pada tingkat efisiensi pembangkit listrik, juga pembelanjaan modal yang lebih rendah,” tanda George.

Di sisi lain, sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi beberapa tantangan unik terkait pembangkitan tenaga listrik. Misal, pembangkit listrik skala besar, hal ini mungkin ideal untuk pulau-pulau yang berpenduduk padat seperti Jawa dan Sumatera. Namun, tidak demikian dengan daerah-daerah yang memiliki populasi kecil dan tidak terhubung jaringan nasional, seperti Kalimantan dan bagian Timur Indonesia.

Pada titik inilah, teknologi yang terdistribusi bisa memberikan kesesuaian solusi yang tepat, dari sudut pandang ekonomi.

George Djohan juga menguraikan, sistem tenaga yang terdistribusi ini ditandai dengan kecepatan penggunaan, mobilitas, fleksibilitas, dan efisiensi; serta telah digunakan di Gorontalo, di mana pembangkit listrik mobile berkapasitas 100MW telah memasok listrik dengan biaya produksi terjangkau dan andal, untuk lebih dari 25.000 rumah.

Pada akhirnya, kemampuan menghasilkan tenaga listrik terjangkau dan berkesinambungan akan kehilangan relevansinya, jika tidak bisa ditransmisikan dan didistribusikan secara efisien. Biasanya, transmisi dan distribusi merupakan poin terakhir dalam penyediaan teknaga listrik; karena diperlukan proses panjang dari tempat pembangkit listrik ke lokasi konsumen. Proses ini bisa sangat berdampak pada biaya keseluruhan.

Salah satu solusi efisien untuk hal ini adalah pemakaian gardu digital, yang kini mengalami peningkatan di banyak negara, termasuk Indonesia. Gardu digital memungkinkan operator untuk memperoleh informasi secara real time, tentang bagaimana energi mengalir di jaringan listrik; sehingga mempercepat proses pengambilan keputusan, dan ketersediaan listrik yang lebih besar.

“Pemeliharaan pun jadi upaya preventif dan jadi konsentrasi saat ini, terutama di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia, yang masih sering mengalami pemadaman listrik,” pungkas George.

Subscribe to our GE Brief