Categories
Pilih Negara
Follow Us

Game Changer 3D Printing

Teknologi 3D (dimensi) printing yang semakin berkembang dan canggih, mungkin masih tampak seperti fiksi ilmiah. Tapi sebenarnya ini nyata, hasil cetakannya pun sudah banyak tersebar di tengah-tengah kita. Seperti pada turbin istrik, kendaraan mewah, mesin jet, implan untuk membentuk kembali rangka makhluk hidup, dan sebagainya. Mendukung perkembangan ini, GE Additive menciptakan 3D printing yang revolusioner dan terbesar di dunia, pada 2017.

Prabhjot Singh, Manager, Additive Manufacturing Lab, GE Global Research, menyatakan, mesin 3D printing ini menggantikan konsep konvensional dalam membentuk material 3D sehingga bisa lebih mudah diakses. Mesin ini juga menghilangkan berbagai proses pabrikasi, membuat proses pencetakan lebih menghemat biaya dan bisa mengejar durability.

3D printing adalah teknologi yang unik karena bisa juga digunakan untuk menulis dengan tinta tertentu. Teknologi dari GE ini telah menjadi game changer yang mengubah pencetakan menjadi lebih cepat, “ katanya.

Di sisi lain, Wakil Presiden dan General Manager GE Additive, Mohammad Ehteshami, menjelaskan bila mesin ini mencetak tampilan 3D yang bisa disesuaikan untuk membuat berbagai komponen dengan akurasi tinggi. Sementara dalam proses pencetakan akan menggunakan laser dengan material berupa logam.
“Mesin ini bisa untuk mencetak komponen mesin jet. Tapi ini juga akan bermanfaat untuk industri otomotif, listrik, serta minyak dan gas,“ kata Ehteshami.

Cara kerjanya, jelas dia, printer versi beta akan mencetak di dalam sebuah kotak sebesar 1 meter persegi. Kemudian sinar laser berkapasitas 1 kilowatt akan dipancarkan untuk memahat logam berdasarkan desain layer by layer, yang langsung dikirim dari file komputer.

“Metode ini telah memberi kemudahan bagi para insinyur untuk melihat hasil rancangannya,” kata Ehteshami. “Juga memberikan efisiensi bagi produsen akan kebutuhan contoh rancangan desain, sehingga tak perlu lagi ada membeli mesin perkakas khusus yang mahal dan memakan tempat.”

Selain itu, lanjutnya, 3D printing GE akan menggunakan teknologi proprietary untuk mengendalikan penggunaan logam, sehingga bisa mengurangi pemakaian logam hingga 69 persen dibandingkan dengan mesin perkakas tradisional. Printer ini juga memanfaatkan Predix, sebuah platform perangkat lunak GE untuk internet industri. Jadi pemilik mesin bisa memantau proses pencetakan dan juga kondisi mesin.

image

Ke depan, karena sifat teknologinya scalable, GE akan membuat mesin 3D printing ini dengan cetakan yang lebih besar lagi. Sehingga mampu melakukan proses pencetakan lebih cepat dari mesin yang sekarang.

Tercatat beberapa produk GE juga telah menggunakan printer ini, mulai dari aviasi, turbin, dan sebagainya. Bahkan GE Power mengklaim sudah mengirimkan sekitar 9.000 komponen dari hasil printer 3D untuk digunakan pada turbin gas ke pelanggan dunia.

Selain itu, saat ini sudah ada pelanggan GE yang meminta mesin printerdengan volume cetakan lebih dari 1 meter kubik. Dengan begitu, pelanggan dapat mengkonfigurasi desain dan memungkinkan untuk menambahkan lebih banyak laser.

Sementara itu, Guy Deleonardo, Manajer Produk Eksekutif untuk turbin gas di bisnis Power Systems Gas GE Power, menyatakan, mesin ini akan membantu sektor ketenagalistrikan menciptakan lebih banyak listrik dan juga mengurangi emisi.

Di masa lalu, kata dia, dibutuhkan waktu sampai satu dekade untuk mencapai efisiensi turbin ke satu titik persentase. Tapi dengan menggunakan 3D printing ini, sekarang efisiensinya  bisa dicapai dalam beberapa tahun saja. Ini terjadi karena desainer bisa membuat prototipe dengan cepat, mengujinya, meniru desainnya, dan kemudian mencetak lagi.

Proses 3D printing yang bisa menghasilkan produk secara massal ini, pada akhirnya menekan efisiensi yang kerap rumit atau mahal jika dibuat dengan metode pembuatan konvensional. Manufaktur juga bisa memangkas biaya dengan membuat rantai pasokan lebih sederhana, dibandingkan dengan metode produksi tradisional seperti pengecoran dan permesinan.
Sementara itu, Kassy Hart, Insinyur Manufaktur untuk GE Power di Power’s Advanced Manufacturing Works di Greenville, South Carolina, menjelaskan, mesin 3D printing ini telah membantu menciptakan sebuah nosel fuel untuk mendukung komponen turbin gas kelas HA. Nosel yang mendorong efisiensi turbin gas HA-class GE menjadi 64 persen.

Kemampuan untuk meningkatkan produksi dan menggabungkan desain baru merupakan keuntungan lain dari mesin printer 3D ini. Sebab mengulangi desain dan membangun lebih banyak nosel akan membutuhkan lebih banyak printer.
Salah satu pelanggan turbin HA dari GE, pembangkit listrik di Prancis, mencatat rekor di “Guinness World Records” pada 2016 sebagai pembangkit listrik combined cycle paling efisien, yang menghasilkan efisiensi sebesar 62,2 persen.

Asal tahu saja, awal mula GE memasuki bisnis 3D printing dimulai pada 2016, saat GE memperoleh saham mayoritas di Arcam, sebuah 3D printing. Dengan perusahaan seperti Arcam, yang membuat printerpowder dan juga keahlian 3D printing, akhirnya GE memiliki penawaran yang lengkap untuk bisnis ini.

Subscribe to our GE Brief