Categories
Pilih Negara
Follow Us

Fullstream BHGE Hadirkan Kelengkapan dan Layanan End to End

Pada tahun lalu, merger antara GE dan Baker Hughes melahirkan anak perusahaan jasa penunjang minyak dan gas (migas) serta energi, yang terintegrasi lengkap mulai dari upstream, midstream, hingga downstream. Perusahaan yang berkantor pusat di Houston Texas dan London Inggris ini, bernama BHGE (Baker Hughes General Electric). Bisa dibilang, BHGE adalah perusahaan pioneer dan satu-satunya yang berkemampuan holistik. Kiprahnya pun diakui berbeda para pelaku industri karena dapat menghadirkan kelengkapan layanan.

“Ada perusahaan lain yang hampir sama layanannya di industri jasa dan jasa penunjang migas. Namun mereka hanya bisa fokus melayani upstream-nya ataupun midstream-nya. Kalau BHGE lengkap di semua sektor kemampuan keahlian jasa dan produknya,” kata Iwan Chandra, CEO BHGE Indonesia dalam acara konferensi pers.

Dijelaskannya, kelengkapan itu ditawarkan dalam solusi bertajuk “FullStream”, yang mencakup penyedia jasa dan barang untuk migas dan energi, baik itu di offshore ataupun onshore. Artinya, Fullstream merupakan layanan end to end dari mulai pengeboran, sampai pada ketenagalistrikan dan pengolahan petrokimia.

Untuk mendukung layanan, BHGE, lanjut Iwan Chandra, bisa bermitra dengan pelanggan dengan cara bisnis modern. Cara ini mempelajari tantangan dan hasil yang ditargetkan dengan menggunakan pendekatan berbasis hasil dan model komersial.

“Biasanya kontrak itu hanya sebatas sektornya saja tidak berani keseluruhan, namun kalau kami berani dan bisa sekaligus semuanya berdasarkan performance based. Kontrak ini bersifat reward and punishment dengan syarat harus digital. Kalau performa di atas 95%, BHGE dapat reward, tetapi kalau di bawah 95% kami dapat punishment,” jelasnya.

Dari kontrak fullstream bersama BHGE, Iwan Chandra menambahkan, hasilnya bisa menciptakan sumber nilai baru yang meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomis proyek melalui peralatan dan layanan yang terintegrasi. “Selain itu, hal tersebut dapat meningkatkan produktivitas industri migas hingga 5%,” tuturnya.

Menurut Iwan, ada tiga hal yang mendukung fullstream. Pertama adalah kapabilitas yang bisa mengkoneksikan dari satu sektor ke sektor lain yang disebut wall to wall port ke megaport. Kapabilitas ini menggunakan teknik manufaktur canggih, dan solusi pabrik terbaik untuk membantu para pelanggan mendapatkan berbagai manfaat, mengurangi risiko dan meningkatkan produktivitas operasi.

Kapabilitas tersebut juga didukung akses ke dalam pusat pengetahuan “GE Store”, pengalaman, dan berbagai hasil penelitian yang membawa solusi terbaru kepada industri dengan lebih cepat. Kapabilitas ini memperkuat keunggulan kompetitif melalui kemitraan lokal panjang, model bisnis kreatif, dan akses kepada pembiayaan. “Dengan keunggulan kapabilitas BHGE diharapkan kinerja produksi meningkat signifikan dengan lebih cepat . Selain itu layanan teknologinya lebih compactible, andal, fleksibel, dan efisien,” tuturnya.

Kapabilitas kedua, seiring tren merubah sistem analog menjadi digital, Fullstream BHGE menerapkan kemampuan digital untuk meningkatkan keandalan, efisiensi biaya dan waktu aktif. “Fullstream harus layanan digital. Kalau pakai teknologi analog akan sangat sulit. Dengan digital, data bisa kita bisa taruh di server atau physical server di Indonesia,” jelas Iwan.

Digitalisasi tersebut nantinya akan didukung Operating System (OS) bernama Predix yang memungkinkan bagian-bagian kegiatan dibuat aplikasinya sendiri sesuai dengan situasi. OS dari GE ini juga mencakup semua data yang ada dari mulai migas, energi, sampai healthcare.

Digitalisasi menyatukan peralatan, layanan, dan solusi seluruh spektrum produksi dan pengolahan migas. Sekarang kan rata-rata tingkat oil recovery dunia adalah 35%. Jika digitalisasi dapat meningkatkan tingkat recovery hingga 1% saja, hal ini dapat menambah produksi minyak 80 miliar barel atau setara dengan produksi minyak global selama kurang lebih tiga tahun,” katanya.

Sebenarnya, kata Iwan, dari sisi investasi layanan penunjang migas digital ini disebut tidak berbeda jauh dengan layanan konvensional. Ini bisa dilihat dari WP&B para KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama), biaya untuk penunjang migas konvensional maupun digital tidak terlalu beda jauh dan cenderung sama, tetapi hasilnya lebih baik.

Akan tetapi, Iwan mengakui dari semua kecanggihan itu tak akan berhasil tanpa kolaborasi yang baik. Ini harus terjadi antara dengan operator atau perusahaan migas, pemerintah dengan perturannya dan juga BHGE sebagai penyedia teknologi. “Ini yang ketiga. Kolaborasi ini juga penting,” katanya. Untuk mendukung kolaborasi, setiap perusahaan pelanggan nantinya memiliki aplikasi sendiri dengan sistem operasi yang disediakan BHGE.

Selain itu, BHGE pun tidak bermasalah berkolaborasi dengan sistem gross split yang saat ini dicanangkan pemerintah. Menurut Iwan, gross split yang pada dasarnya memakai capital dari perusahaan migas sendiri, sangat membutuhkan dan mempertimbangkan nilai efisiensi yang tinggi. “Melihat situasi ini industri pastinya akan mempertimbangkan sistem model dan teknologi apa yang bisa menjamin efisiensinya. Kami bisa hadir untuk ini,” katanya.

Masuk ke berbagai skala proyek

“Pasca merger, layanan BHGE bisa masuk ke proyek migas dari hulu hingga hilir dan dari skala besar hingga skala kecil. Jadi sekarang, di Indonesia kami bisa tak hanya proyek besar-besar saja, proyek upstream skala kecil juga bisa,” kata Iwan.

Contohnya, kata Iwan, seperti membangun proyek LNG skala kecil dengan kapasitasnya hanya 25-50 mmscfd, mengerjakan proyek EOR skala kecil, mengerjakan transportasi digabung dengan regas untuk diterima sampai ke pembangkitnya dan juga mengatasi kondisi sumur tua.

Saat ini, produksi migas Indonesia masih mengandalkan lapangan-lapangan tua. Padahal lapangan tua memerlukan perhatian khusus. Iwan menyatakan, BHGE sanggup hadir membantu persoalan ini dan membuktikan produksi migasnya rata-rata bisa naik 20% jika menggunakan teknologi dari layanan penunjang BHGE.

“Secara rata-rata sekitar 6 bulan sampai satu tahun akan terasa dampak kenaikan produksi dengan menggunakan layanan BHGE,” ujarnya.

Semua hal layanan untuk sektor besar sampai kecil dilakukan BHGE karena ingin menghadirkan operasional skala global sambil menyesuaikan kemampuannya untuk kebutuhan lokal pelanggan. BHGE juga ingin para pemain industri migas Indonesia bisa mendorong produktivitas sembari meminimalkan biaya dan risiko.

“BHGE mau meningkatkan daya saing perusahaan migas atau energi di Indonesia di tingkat global. Ini jadi bagian dari fokus kami,” Iwan menambahkan.

BHGE yang mempunyai 70.000 karyawan di seluruh dunia dan beroperasi di lebih dari 120 negara ini, akan membantu pelangan mendapatkan, mengangkut, serta dan mendapatkan produk-produk akhir hidrokarbon secara lebih efisien, produktif, ramah lingkungan,aman dengan biaya perbarel yang lebih rendah. “Intinya BHGE dirancang mencapai kesinambungan bisnis melampaui sasaran kinerja,” Iwan menutup pembicaraan.

Subscribe to our GE Brief