Categories
Pilih Negara
Follow Us

Digital Utility Menjawab Tantangan Intermittent Listrik EBT

Negara-negara Eropa dikenal sebagai pelopor perkembangan terkini untuk industri energi. Bahkan, benua terkecil kedua di dunia ini seringkali menciptakan teknologi yang efisien dan canggih, baik itu energi fosil, maupun yang berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

Penggunaan listrik dari pembangkit EBT sendiri masih didominasi tenaga angin dan matahari. Pada 2016, dengan kapasitas listrik terpasang sekitar 153,7GW, energi angin berhasil menduduki posisi terbesar kedua sebagai pengganti listrik yang bersumber dari batubara.

Meski begitu, penggunaan energi dari tenaga fosil masih tetap memiliki peran besar. Hampir dua pertiga listrik yang digunakan di Eropa masih berasal dari batubara, gas, maupun nuklir.

Pertimbangan pasokan listrik EBT masih dibaurkan seimbang dengan energi fosil, karena pada pembangkit listrik EBT terdapat intermittent atau ketidakstabilan, karena pasokan listriknya masih tergantung kondisi alam dan cuaca. Jadi mau tidak mau, untuk mencukupi pasokan listrik masih harus dijamin dari pembangkit berbahan bakar fosil.

Padahal intermittent, sekarang ini bisa disiasati dengan menggunakan solusi smart grid dan digitalisasi. Jika menggunakan solusi digital dengan software pendukung, maka produsen listrik bisa mendapatkan akurasi informasi secara real-time tentang kondisi pembangkit, efisiensi, ramalan cuaca, dan permintaan konsumen; selain itu juga, proyeksi informasi kebutuhan pasokan listrik.

Terkait hal itu, GE merilis perangkat lunak bernama Digital Utility yang bisa mengontrol pasokan energi agar tetap stabil dan aman. Digital utility ini bisa menganalisa 100.000 katalog digital twin berdasarkan dari 2 persen data pembangkit listrik EBT saja; sehingga tercipta representasi virtual dari data aktual.  Digital Utility juga bisa memodelkan pilihan skenario terbaik ke depan, memprediksi hasil potensial, membuat produksi lebih efisien dan membantu menjaga stabilitas grid.

Walau canggih, namun sebenarnya prinsip kerjanya cukup sederhana. Turbin pembangkit listrik EBT akan dilengkapi dengan sensor elektronik yang berfungsi mengumpulkan sejumlah data saat dipergunakan, maupun berasal dari lingkungan eksternal.

Data tersebut akan diolah dengan perangkat lunak, yang akan menganalisa dan memberikan informasi terbaru mengenai kinerja mesin. Jadi produsen listrik EBT tak perlu lagi mengandalkan spreadsheet, atau sistem informasi terpisah, untuk menginformasikan kebutuhan pasokan.

Praktis, teknologi ini tidak hanya membantu operasional mesin jadi lebih efisien, tetapi juga berfungsi sebagai prediksi multifungsi dan mencegah terjadinya masalah pada mesin, secara akurat dan real time.

“Intinya, cara baru ini akan menghubungkan setiap mesin operasional, agar bisa dikaji dan dioptimalkan. Kami mencoba menjamin pasokan  listrik yang aman, terpercaya, terjangkau dan berkelanjutan,” kata Kepala Strategi Perangkat Lunak GE Power, Scott Bolick.

“Dan ketika ada yang tidak beres, misalnya pompa air rusak, atau turbin gas turun, bisa langsung diketahui,” imbuh Manajer Produk Utama GE Power Digital, Anna Geevarghese.

Digital Utility juga berperan mengurangi gas emisi rumah kaca. Secara bisnis, nantinya produsen listrik bisa meningkatan efisiensi energi, dan mengurangi Biaya Pokok Produksi (BPP) pembangkit agar menjadi lebih ekonomis.

Scott yakin, jika penggunaan Digital Utility ini ditingkatkan, maka bisa menjadi upaya masif transisi penggunaan pembangkit berbahan bakar fosil ke pembangkit berbasis EBT. Dengan solusi ini, ia juga memproyeksikan secara global, penggunaan listrik dari EBT akan mencapai puncaknya, sehingga bisa menggantikan energi dari batubara dan gas pada 2040.

Subscribe to our GE Brief