Categories
Pilih Negara
Follow Us

Dayu Dara dan Suksesnya Gojek dalam Digital Ekonomi

Saat ini, telah berdiri sekitar 1.700 startup yang menggeluti ekonomi digital di Indonesia. Satu perusahaan yang sangat dikenal masyarakat adalah PT Aplikasi Karya Anak Bangsa, atau yang awam disebut Go-Jek.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde pernah menyatakan, Go-Jek merupakan perusahaan yang mampu memanfaatkan peluang digital ekonomi. Dari sekadar perusahaan IT (Informasi Teknologi) berbasis standar layanan transportasi menjadi perusahaan yang membuat aplikasi multifungsi dengan layanan kreatif dan inovatif dengan pengembangan yang berkelanjutan.

Belakangan ini, perusahaan yang dimotori Nadiem Makarim dan Dayu Dara Permata, telah menjadi suatu fenomena investasi tersendiri, saat mendatangkan dana triliunan dari berbagai perusahaan raksasa Indonesia dan internasional. Sebut saja KKR, Warburg Pincus, Farallon Capital, Capital Group Markets, Tencent, JD.com, Google, Astra International, juga Grup Djarum, yang telah menyuntikan triliunan dana segar ke PT Aplikasi Karya Anak Bangsa.

“Kami senang menjadi bagian dari masuknya investasi ke Indonesia,” kata Dayu Dara Permata, VP Gojek Indonesia, dalam suatu acara di kantor GE, di Jakarta, belum lama ini. “Kami tak bisa menyatakan berapa share holder Gojek sekarang, tapi kami tetap mayoritas.”

Di sisi lain, perusahan berbasis aplikasi ini telah memberikan lapangan kerja bagi sekitar 250 ribu pengemudi Go-Jek. Menurut Dara, membuka lapangan kerja baru merupakan komitmen awal dirinya dengan Nadiem, CEO Go-Jek. “Dan faktanya, dalam beberapa tahun pengangguran di Indonesia turun sekitar 2%,” ujar perempuan jebolan Mc Kinsey ini.

Ia mengatakan,saat ini Go-Jek tengah fokus pada 3 value. Pertama, jasa transportasi yang menyediakan mobilitas tinggi dengan tarif terjangkau. Kedua jasa pengantaran, baik itu logistik, produk, dan jasa. Sementara yang ketiga, penerapan transaksi digital.

“Ini adalah tulang punggung utama kami,” katanya. “Dan untuk saat ini, Go-Jek sudah ada di 75 kota, seiring berkembangnya bisnis dan inovasi mudah-mudahan di tahun berikutnya kami bisa ada di 200 kota.”

 

 

 

Membangun dari nol

Awal 2015, Nadiem, yang juga alumni McKinsey, mengajak Dara membangun sebuah startup teknologi. Dalam perbincangan di sela seduhan kopi itu. Nadiem mengatakan ke Dara bila startup teknologi tersebut akan berguna bagi kepentingan jutaan rakyat Indonesia. “Ada satu kata yang ia bisa yakinkan ke saya, bahwa orang–orang seperti kita ini seharusnya menciptakan lapangan pekerjaan bukan hanya mencari pekerjaan,” cerita Dara. “Saya pun memutuskan bergabung.”

Seperti kebanyakan bisnis, Dara dan Nadiem sempat mengalami banyak kendala di awal perintisan Go-Jek. Bahkan keluarga Dara sempat mempertanyakan mengapa ia pindah kerja dari sebuah perusahaan yang sudah mapan dan gajinya sudah besar, ke startup.

Apalagi ketika pertama kali mereka menyiapkan kantor di Kemang, Jakarta, Selatan. Saat itu, Dara melihat belum ada perangkat kerja atau tim yang tersedia. “Percakapan pertama dengan Nadiem adalah mengenai visi misi yang akan dilakukan. Saya tanya rencana dan layanan apa yang akan dilakukan, Nadiem justru membalikan pertanyaan itu kepada saya,” selorohnya.

Nadiem, kata Dara, mendirikan Go-Jek karena melihat kemacetan Jakarta sudah sangat crowded, setelah pulang kuliah di luar negeri. Kemacetan itu, memaksa Nadiem harus sering menggunakan jasa ojek pangkalan.

“Ia lihat jarak tempuh yang efisien adalah dengan menggunakan motor. Namun dari sisi profesionalitas, safety driver ojek harus diperbaiki. Sambil kita bisa perbaiki penghasilannya,” tutur Dara.

Tak membatasi inovasi

Di awal pelayanannya, Go-Jek menggunakan web based. Cara kerjanya, pelanggan Go-Jek memesan lewat telepon atau e-mail data ke call centre. Setelah dipesan, call centre Go-Jek memasukan data jarak tempuh pesanan ke CMS (Costumer Management Service) yang perkiraannya berdasarkan Google Map.

Langkah selanjutnya, admin call centre menghubungi driver ojek satu per satu yang jadwalnya sudah dibuat berdasarkan wilayah untuk bisa menjemput pelanggan. Tapi terkadang driver ojek yang sudah konfirmasi tiba-tiba menyatakan batal bisa menjemput pelanggan di wilayah tersebut dengan berbagai alasan. Mau tak mau tim call centre harus menelepon satu per satu driver lainnya, dari 40 driver yang terdata, untuk mencari pengganti.

“Pernah kejadian dari sekian banyak yang ditelepon akhirnya baru dapat driver yang mau menjemput konsumen. Di sini, kita melihat tak bisa dapat komitmen available dari driver,” ujarnya. “Ada juga pembatalan berasal dari pelanggan secara sepihak, membuat driver tidak dapat pemasukan.”

Ketidakpraktisan lain adalah jangka waktu pesanan driver juga harus dilakukan minimal sekitar 2 jam. Tujuannya agar call center bisa input data, menelepon driver, dan menginformasikan kembali pada pelanggan. Sementara proses pembayaran masih dilakukan secara manual, dengan transfer ke rekening kantor Go-Jek dan perlu proses pengecekan biaya masuk melalui e-banking.

“Sistem web based dengan konfirmasi menelepon ini jelas tidak efisien, memakan energi dan waktu,” kata dia. “Cara konvensional ini kita lakukan selam 4 tahun.”

Di pertengahan 2014, masuk aplikasi layanan Uber yang sukses menyediakan mobil penumpang pribadi. Dari sana, keduanya berpikir untuk membuat aplikasi berbasis digital dengan layanan motor. Pemikiran ini diperkuat dengan adanya dua juta pengguna motor. “Jumlah tersebut sangat banyak. Jadi yang kita butuhkan adalah meng-hire ahli IT yang masih muda dengan semangat inovasi ,” tutur Dara. “Alhamdulillah, akhirnya kami bisa menerapkan inovasi app based yang bisa di-download di Playstore,” ujarnya.

Saat itu aplikasi masih terbatas pada layanan transportasi. Seiring waktu tim IT Go-Jek memperbaiki kualitas termasuk kecepatan dalam merespon permintaan. “Dulu standar kecepatan kira-kira 15 menit namun sekarang kami targetkan maksimal dalam dua menit driver ojek akan sampai ke tempat pemesan,” katanya.

Selain itu, Go-Jek pun membuat berbagai layanan tambahan dalam fitur, dari mulai logistik sampai jasa pijat. Semua inovasi layanan itu merupakan hasil dari pemikiran para tenaga IT di Go-Jek. Bahkan menurut Dara, posisi tim IT dalam memberikan ide inovasi sejajar dengan dirinya dan Nadiem.

“Kami tak membatasi mereka karena inilah salah satu kekuatan kami, walaupun keputusan ada di manajemen ,” kata Dara. “Tugas saya dan Nadiem adalah masing-masing membagi peran dalam bisnis Gojek. Sedangkan inovasi kami luaskan ke berbagai tim yang ada di Go-Jek. Karena jika suatu perusahaan ingin maju jangan pernah membatasi kreativitas pegawainya.”

Subscribe to our GE Brief