Categories
Pilih Negara
Follow Us

7 Fakta Menarik Proyek PLTGU Jawa 1

Pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa-1 berkapasitas sebesar 1.760 MW, di Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, telah dimulai pada 19 Desember 2018. Groundbreaking ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, didampingi Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati, serta Direktur Pengadaan Strategis PT PLN, Supangkat Iwan Santoso.

Peletakan batu pertama pembangunan proyek infrastruktur gas dan pembangkit listrik terintegrasi Jawa 1 ini dianggap sebagai tanda dimulainya tahap konstruksi secara masif. Pencapaian ini terwujud berkat kemitraan dan dukungan dari mitra konsorsium yang menggabungkan keahlian masing-masing dalam identifikasi dan inisiasi proyek, pembiayaan proyek, teknologi dan konstruksi proyek.

Ginanjar, Presiden Direktur Pertamina Power Indonesia (PPI) yang juga menjabat sebagai President Director PT Jawa Satu Power, mengatakan, dengan memasuki tahap konstruksi secara masif tersebut, spektrum, koordinasi dan kontrol proyek dan para pihak terkait yang terlibat akan menjadi bertambah luas.

“Soliditas  konsorsium dan supporting partner lainnya menjadi kunci keberhasilan proyek agar berjalan on time dan on budget dengan selalu memprioritaskan aspek quality and HSSE selama masa konstruksi dan operasinya,” kata Ginanjar.

Terlepas dari acara peresmian dimulainya proyek tersebut, PLTGU Jawa 1 ternyata mempunyai sederet fakta. Berikut ini adalah penjelasannya:

 

  1. Terbesar di Asia Tenggara
    Darmin Nasution menjelaskan, PLTGU Jawa-1 akan menjadi pembangkit listrik terintegrasi pertama di Asia dan terbesar di Asia Tenggara, yang menggabungkan bisnis LNG yang terintegrasi dengan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) yang pada akhir kontrak akan diambil alih oleh PLN dan pembangkit independent power producer (IPP).

    Menurut Darmin Nasution, pengerjaan PLTGU Jawa 1 tersebut tidak hanya sebagai Proyek Strategis Nasional, tetapi juga sebagai proyek prioritas dari Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP).

    “Kita patut bersyukur dengan proyek yang penting dan membanggakan yaitu PLTGU Jawa-1 atau yang lebih sering disebut proyek IPP PLTGU Jawa-1 merupakan pembangkit listrik terintegrasi pertama di Asia dan terbesar di Asia Tenggara,” katanya.

 

  1. Didukung solusi teknologi paling efisien
    Pembangunan konstruksi PLTGU Jawa 1 dipercayakan kepada General Electric (GE), Samsung C&T (Samsung) dan PT Meindo Elang Indah (Meindo), termasuk pemeliharaan pembangkit listrik selama 25 tahun.

    Teknologi yang digunakan PLTGU ini salah satunya adalah turbin gas yang disediakan oleh GE, yaitu turbin 9HA.02. Handry Satriago, CEO GE Indonesia mengatakan, PLTGU Jawa 1 akan mendapatkan keamanan, prediksi yang tepat dan keandalan yang tinggi serta tetap memastikan kinerja optimal dengan biaya pemeliharaan berkelanjutan yang lebih rendah. Karena, menurut dia, GE juga akan memberikan layanan pemeliharaan jangka panjang yang meliputi solusi digital, instalasi part, commissioning, serta field and repair services.

    Selain itu, berbagai peralatan pembangkit tenaga listrik yang ada di sini juga akan menjadi bagian dari fasilitas yang dipantau oleh GE Monitoring and Diagnostic (M&D) Center di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat.

    “Efisiensi pembangkit listrik penting untuk menjaga tarif listrik tetap kompetitif dan terjangkau masyarakat. Di sinilah turbin gas GE 9HA.02 memiliki efisiensi tinggi dan perangkat lunak Asset Performance Management (APM) dari GE memainkan peranannya,” Handry menambahkan pembicaraan, saat acara berlangsung.

    Sementara itu, Samsung akan menyediakan pekerjaan konstruksi dan peralatan balance of plant untuk pembangkit listrik. Sedangkan Meindo akan menyediakan semua pekerjaan laut termasuk jetty, pipa gas, dan pipa air pendingin.

 

  1. Sinergi BUMN dan perusahaan berbagai Negara
    “Proyek ini merupakan bagian dari komitmen dan kolaborasi BUMN besar Indonesia yakni Pertamina dan PLN, untuk memberikan solusi LNG to Power guna menghasilkan energi bersih dan terjangkau dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Nicke Widyawati. Proyek ini juga merupakan kolaborasi internasional yang melibatkan 18 mitra Internasional maupun domestik (Indonesia, Jepang, Korea, Amerika, dan Eropa).

 

  1. Hasilkan tarif listrik murah
    Pengoperasian PLTGU Jawa-1 yang terintegrasi langsung dengan FSRU berpotensi menghasilkan penghematan bagi PT PLN (Persero) karena listrik yang dibeli jadi kompetitif. Selama masa life time PLTGU, PLN mendapatkan tarif listrik dengan harga yang relatif murah yakni 5,5038 USD/kWh.

    “Pembangkit ini diharapkan bisa menambah pasokan listrik untuk 11 juta pelanggan. Dengan tarif yang efisien, PLN berpotensi menghemat sebesar Rp43 triliun,” kata Supangkat Iwan Santoso, Direktur Pengadaan Strategis PLN.

 

  1. Bisa gantikan peran pembangkit lain
    Proyek PLTGU Jawa-1 yang ditargetkan selesai September 2021 ini akan disalurkan melalui jaringan PLN Jawa-Bali. Supangkat menyatakan, penghematan baru akan benar-benar terasa saat PLTGU Jawa-1 bisa menggantikan pasokan listrik dari pembangkit lainnya.

    “Pembangkit-pembangkit yang lama kan tidak efisien. Ini sangat efisien. Jadi tentu bebannya akan turun sehingga secara total rupiah per kWh akan turun di Jawa Bali. Setelah masuk beroperasi, nanti biaya pokok produksinya akan lebih hemat,” tutur Supangkat Iwan Santoso.

 

  1. Sisa alokasi gas masih bisa dimanfaatkan
    Diperkirakan nantinya masih akan ada tersisa alokasi gas untuk PLTGU Jawa 1, karena pembangkit listrik tidak menyerap semua gas yang bisa diolah di FSRU Jawa-1, yang mana kapasitasnya 400 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

    Sebagian besar dari kebutuhan tersebut akan dipasok dari BP Tangguh ke PLTGU Jawa-1 selama 20 tahun dengan kapasitas 16 kargo per tahun dengan harga ditetapkan 11,2% dari ICP + US$ 0,4 / MMBTU. 16 kargo per tahun itu setara 160 BBTUD.

    Dikarenakan pembangkit ini bukan base load, kata Supangkat, kira-kira bebannya 60%. Jika hanya diaktifkan 60% dari total kemampuan pembangkit yang sebesar 1.760 megawatt (MW), berarti akan ada kelebihan gas.

    “PLN sebagai pemilik kontrak gas nantinya bisa memasarkan kelebihan pasokan di FSRU untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Ini suatu kelebihannya. Toll fee kompetitif, dan apabila utilisasi bisa lebih tinggi lagi bisa diambil PGN atau Pertamina,” tutur Supangkat.

 

  1. Ciptakan multiplier effect
    Presiden Direktur Pertamina Power Indonesia (PPI) Ginanjar mengatakan pembangunan pembangkit listrik ini akan menciptakan multiplier effect bagi perekonomian wilayah Karawang, Bekasi, dan sekitarnya. Salah satunya adalah penyerapan tenaga kerja yang mencapai 4.600 orang pada masa konstruksi dan lebih kurang-200 orang pada masa operasi, sehingga diharapkan bisa berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja baru serta peningkatan perekonomian daerah.

    Di sisi lain, Nicke Widyawati, menilai di beberapa sudut di luar aset PLTGU ini cocok dijadikan sebagai spot tujuan pariwisata yang edukatif mengingat fasilitas-fasilitasnya merupakan termegah dan terlengkap di Asia Tenggara. “Nantinya akan menambah pemasukan bagi daerah Karawang baik dari akomodasi, transportasi ataupun kuliner,” kata Nicke.

Subscribe to our GE Brief