Categories
Pilih Negara
Follow Us
Women In STEM

GE Indonesia Recognition for Women in STEM

GE selalu mengapresiasi para perintis dan pionir. Mereka inilah yang memunculkan inovasi, mentransformasi, dan mencetuskan berbagai peluang baru. Para perempuan yang menekuni bidang Sains Teknologi, Engineering dan Matematika (STEM) inilah yang menerima apresiasi di acara GE baru-baru ini, yakni GE Indonesia Recognition for Inspiring Women in STEM.

Acara ini bertujuan mengangkat kisah para perempuan tersebu, mendorong dan mendukung agar lebih banyak perempuan terjun di bidang STEM, serta untuk menginspirasi generasi baru pekerja perempuan di bidang STEM di Indonesia. Tujuan ini penting sekali untuk mendukung keterlibatan perempuan yang lebih luas di bidang STEM, dan membuka peluang besar bagi mereka.

Dengan latar belakang itulah kami menghadirkan para perempuan di bidang STEM ini. Kami bangga memberikan penghargaan kepada mereka yang telah membuka jalan bagi munculnya berbagai peluang di Indonesia. Inilah kelima perempuan tersebut:

I. dr. Pratiwi Pudjilestari Sudarmono, Ph.D, SpMK(K), Pakar Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia

“Meskipun ilmuwan perempuan Indonesia belum banyak, namun penting untuk mengapresiasi perempuan yang berkarir di bidang STEM. Pasalnya, mereka telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam negeri.”

Prof. Pratiwi Pudjilestari Sudarmono adalah pakar mikrobiologi yang berpengalaman puluhan tahun sebagai ilmuwan terkemuka di bidang ilmu biologi. Dia meraih gelar dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, pada 1976, kemudian meraih gelar Doktor di bidang Biologi Molekular di Universitas Osaka, Jepang.

Ketika mencari calon astronot perempuan, lembaga penerbangan antariksa Amerika Serikat, NASA, tidak banyak menemukan perempuan yang kualitasnya lebih baik daripada Prof. Pratiwi. Itulah sebabnya, pada tahun 1985, NASA memilih Prof. Pratiwi untuk bergabung dalam misi luar angkasa. Dengan demikian, dia akan menjadi warga negara Indonesia pertama yang terbang ke luar angkasa. Sayangnya, misi tersebut dibatalkan setelah bencana yang terjadi pada pesawat ulang-alik Challenger. Meski demikian, kecintaannya yang menyala-nyala pada profesinya dan keahliannya membuat dia terus bekerja di NASA sampai beberapa waktu lamanya.

Saat ini Prof. Pratiwi menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Selain itu, dia juga menjadi Guru Besar Kehormatan dalam Ilmu Mikrobiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan merupakan perempuan yang sangat menonjol di bidang STEM.

II. Premana Wardayanti Premadi, PhD. Pakar Astronomi, Pimpinan Observatorium Bosccha

“Sebagai seorang ilmuwan di bidang astronomi, saya mengamati berbagai obyek astronomis seperti bintang, planet, bulan, komet, dan galaksi. Astronomi merupakan bidang karir yang tidak banyak menarik minat perempuan Indonesia. Namun, saya merasa bangga dengan pekerjaan saya karena pekerjaan ini mendukung pengembangan astronomi di Indonesia serta menginspirasi anak muda untuk mengembangkan minat mereka di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.”

Seorang calon bintang lain yang meraih penghargaan di acara ini adalah pakar astronomi, Prof. Premana Wardayanti Premadi. Dia meraih gelar sarjana di Institut Teknologi Bandung, kemudian memperoleh gelar PhD di University of Texas, Austin, Amerika Serikat. Penelitiannya di bidang kosmologi dan astronomi membuka peluang bagi kita untuk mempelajari bintang. Penelitian itu juga menjadi kisah sukses yang inspiratif bagi orang yang hendak menjajagi berbagai peluang bagi perempuan di bidang STEM di Indonesia.

III. Dr. Eng Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng, Profesor Proses Elektrokimia di Badan Perencanaan dan Penerapan Teknologi, BPPT

“Badan Perencanaan dan Penerapan Teknologi (BPPT) berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Saya bangga menjadi penerima penghargaan termuda, yakni The Habibie Award pada 2010. Penghargaan tersebut diberikan atas penelitian saya tentang sel bahan bakar dengan metode transfer elektron. Rasa bangga yang sama muncul kembali ketika menjadi perempuan pertama penerima The BJ Habibie Technology Award tahun 2018. Saya berharap karya saya dan diskusi hari ini akan mendorong lebih banyak perempuan Indonesia untuk mengejar  karir di bidang STEM.”

Prof. Eniya Listiani Dewi meraih gelar Sarjana Teknik Kimia Terapan di Universitas Waseda tahun 1998, kemudian menamatkan Doktor di bidang Engineering di The Advanced Research Institute for Science and Engineering, Universitas Waseda, Tokyo, Jepang, tahun 2003.

Karyanya di bidang sel bahan bakar dan energi hidrogen telah mendapat pengakuan di kalangan ilmuwan. Pengakuan itulah yang membuatnya diangkat menjadi pengurus di Asosiasi Energi Hidrogen Internasional atau The International Association Hydrogen Energy (IAHE), dan Ketua Asosiasi Sel Bahan Bakar dan Energi Hidrogen Indonesia atau The Indonesian Association for Fuel Cell and Hydrogen Energy (INAFHE). Dia juga telah menerima berbagai penghargaan di bidang ilmu pengetahuan dan riset serta diapresiasi atas kerjanya yang luar biasa di bidang ini. Itulah yang menjadikan dia sebagai perempuan luar biasa di bidang STEM, yang menjadi inspirasi bagi generasi perempuan berikutnya di Indonesia.

IV. Silvia Halim, Direktur Konstruksi, MRT Indonesia

“Saya adalah satu-satunya perempuan dalam jajaran Direksi PT MRT Indonesia, dan memimpin pengerjaan konstruksi MRT Jakarta, yang pada umumnya merupakan bidang pekerjaan yang didominasi para lelaki. Saya ingin mengajak lebih banyak perempuan Indonesia untuk menekuni karir dalam bidang engineering karena negara kita masih membutuhkan banyak insinyur. Saya senang menyumbangkan pengetahuan dan keterampilan untuk pembangunan infrastuktur di Indonesia.”

Peran seorang insinyur justru terletak pada kepiawaiannya dalam menghubungkan berbagai peluang baru, dan itu tampak jelas pada saat peletakan batu pertama pembangunan MRT Jakarta.

Silvia Halim adalah perempuan yang menjadi ujung tombak pembangunan sistem transportasi yang canggih ini. Dialah yang menciptakan berbagai peluang baru yang tidak hanya menghubungkan  warga Jakarta, tetapi juga memunculkan sebuah kisah inspiratif bagi para perempuan yang ingin terjun di bidang STEM. Dia bertekad memperlihatkan bahwa dengan dedikasi dan dukungan serta inspirasi dari para perintis seperti dirinya, maka perempuan di bidang STEM akan mampu melakukan terobosan dalam mempersembahkan karya besar di bidang engineering yang bermanfaat bagi bangsa.

V. Crystal Widjaja, Senior Vice President for Data and Growth, Data Scientist, Go-Jek

“Saya mengapresiasi penghargaan yang diberikan GE yang terus melaksanakan berbagai inisiatif untuk memberdayakan perempuan Indonesia. Dalam jabatan saya sekarang di perusahaan Go-Jek, saya bergelut dengan multi data digital, melakukan analisa agar informasi yang disampaikan berguna untuk berbagai divisi dan membantu meningkatkan pelayanan kepada mitra maupun pelanggan. Saya bangga memimpin team yang bekerja di big data, sebuah bidang yang telah menjadi fokus berbagai perusahaan akhir-akhir ini.”

Data merupakan fondasi bagi peluang masa depan untuk Indonesia dan perekonomian global. Perintis seperti Crystal Widjaja melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk mewujudkan potensi itu.

Crystal merupakan data scientist pertama yang menganalisa dan memberikan masukan berbasis data di Go-Jek, yang merupakan perusahaan unicorn teknologi kebanggaan Indonesia. Pekerjaan tersebut memberinya pengalaman yang sangat berharga mengenai berbagai tantangan dan peluang yang muncul dari big data. Sekarang  dia menginspirasi generasi data scientist perempuan berikutnya yang akan menyampaikan berbagai gagasan dalam meraih sukses di perekonomian Indonesia masa kini. Tekadnya dalam mendukung para pemimpin perempuan masa depan dibuktikan dengan mendirikan Generation Girl, sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan memperkenalkan dan mendukung para perempuan muda untuk berkarir di bidang STEM. Inilah sebuah komitmen yang dimunculkan oleh data dan layak diapresiasi.

Subscribe to our GE Brief