Categories
Pilih Negara
Follow Us

50 Tahun UNINDO: Dari Pabrik Hingga Produk yang Mendunia

Keberadaan UNINDO awalnya ditugaskan hanya untuk memasok produk-produk listrik untuk trafo distribusi yang berukuran kecil. Seiring waktu, UNINDO akhirnya merambah masuk ke berbagai produk, misalnya power transformer dan AIS (air insulated switchgear) untuk proyek listrik, baik di Indonesia, maupun untuk pangsa pasar dunia.

Untuk power transformer, produknya antara lain meliputi power transformer bertegangan 300kV 300MVA, auto-transformer, generator transformer, step-up transformer, mobile transformer, reactor transformer, serta arc furnace transformer. Sementara itu, untuk produk AIS, terdapat disconnecting and circuit breaker dengan tegangan hingga 300kV.

Semua produk UNINDO mempunyai standar internasional yang mencakup IEC, ANSI/IEEE, SPLN, AS, CAN/CSA, dan lain sebagainya.

UNINDO telah mempunyai klien dari dalam dan luar negeri mencakup BUMN seperti PLN, perusahaan listrik swasta, pulp & paper, pertambangan, migas dan sebagainya. Berikut penjelasan Azis Setiawan, Presiden Direktur UNINDO di kantornya, tentang perjalanan produk UNINDO dari tahun ke tahun:

“Saya  juga punya impian untuk mengusung pabrik dengan konsep green, lean, dan brilliant factory, yang juga sedang mengadaptasi dengan konsep digitasi 4.0 yang dicanangkan pemerintah,” kata pria yang juga menjabat sebagai President Director dan Plant Manager Power Transformer UNINDO ini.

Dampak menguntungkan bagi Indonesia

Azis menjelaskan, setidaknya ada tiga dampak yang menguntungkan bagi Indonesia dari keberadaan produk-produk UNINDO. Pertama, dari kiprah PLN sebagai stakeholder sekaligus pelanggan, menjadikan tersedianya pasokan ketersediaan produk ketenagalistrikan yang berkualitas baik dengan tetap memberikan harga yang sangat kompetitif dan layanan purna jual yang baik bagi PLN sehingga diharapkan membawa banyak efisiensi di anggaran belanjanya.

Kedua, pelanggan UNINDO banyak dari industri, generasi, hingga ke seluruh penjuru dunia. Tidak ada benua yang tidak memiliki trafo UNINDO, sekalipun negara maju. “Nah pembelian dari luar ini ikut menyumbangkan devisa ekspor bagi Negara,” kata Aziz.

Ketiga adalah menciptakan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) dan rantai suplai yang luas pada penyedia jasa penunjang lokal, dari mulai transportasi, bahan baku,dan seterusnya. Namun begitu, diakui Azis, untuk bahan baku utama masih menggunakan impor, seperti tembaga, inti besi, peralatan kecil seperti valve, kayu dan kertas khusus dalam trafo.

“Ini karena, kami tidak memiliki industri domestik yang bisa menyuplai bahan baku tersebut. Padahal ada raw material seperti tembaga dari Indonesia, namun diolahnya di luar negeri. Hal ini memang sangat disayangkan. Semoga ke depannya pemerintah dan semua stakeholder dapat bekerja sama untuk membuat iklim yang baik di industri ini agar terus memacu pertumbuhan industri lokal,” Azis menambahkan

 

 

Subscribe to our GE Brief