Skip to main content
header-image
Renewable energy

Memetakan Masa Depan Yang Lebih Bersih: Tenaga Angin, Matahari, Hidrogen, Gas Alam, Air Kurangi Karbon

July 01, 2021

Kamis, 22 April, merupakan Hari Bumi yang ke-51, dan sejumlah pemerintahan, perusahaan, serta orang biasa sekalipun yang peduli terhadap iklim di planet ini mengambil bagian dalam berbagai acara untuk merayakan lahirnya gerakan lingkungan modern. Misalnya, Gedung Putih mengadakan acara ‘Leaders Summit on Climate’ yang menghadirkan perwakilan dari 17 negara penyumbang sekitar 80% emisi karbon dunia dan produk domestik bruto (PDB) global. Hadir pula para pemimpin dunia usaha dan masyarakat sipil, antara lain Danielle Merfeld, vice president and chief technology officer GE Renewable Energy.  Mereka akan membahas berbagai cara untuk mengurangi emisi karbon, teknologi baru yang dapat membantu dekarbonisasi, membantu negara-negara yang rentan dan yang terpapar perubahan iklim, serta berbagai topik lainnya.

Langkah ke depan mencakup energi terbarukan dan energi angin dan tenaga matahari. Semua itu sudah menjadi bagian dari rencana pembangunan infrastruktur besar-besaran yang saat ini diperbicangkan di Washington, D.C. Muncul berbagai proposal, antara lain memperluas cakupan kredit pajak dan membangun turbin angin lepas pantai dalam jumlah yang memadai untuk menangkap energi angin sebesar 30 gigawatt sampai tahun 2030. Jumlah energi sebesar itu akan cukup memadai untuk menyalurkan listrik dalam jumlah yang sama besarnya dengan pasokan ke 10 juta rumah di Amerika, dan mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 79 juta metrik ton. Sementara itu, negara-negara di seluruh dunia memerintahkan penurunan emisi karbon dari pembangkit listrik, dan lebih dari 24 perusahaan utilitas besar di Amerika Serikat telah berjanji untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050.

Mengurangi penggunaan batu bara, yang menghasilkan sepertiga emisi karbon di seluruh dunia, merupakan satu prioritas penting lainnya. “Tentu, sektor kelistrikan menjadi pemimpin dalam dekarbonisasi,” kata mantan Menteri Energi Ernest Moniz baru-baru ini di Washington Post Live, dalam acara “The Future Energy” yang disponsori oleh GE. “Perusahaan-perusahaan utilitas yang dimiliki oleh investor sedang mengarah ke pengurangan emisi sebesar 50% dalam dasawarsa ini dan sedang mempersiapkan diri untuk bergerak semakin cepat dalam menanggapi berbagai tantangan yang dilontarkan oleh presiden.”

Dengan pasokan teknologi ke lebih dari sepertiga daya listrik dunia, GE menyambut tantangan perubahan iklim dengan memprioritaskan terjadinya proses pembangkitan listrik yang berkelanjutan dalam bisnis dan penelitiannya. Misalnya, GE Renewable Energy tengah mengembangkan berbagai proyek pembangkit bertenaga angin raksasa di Oklahoma dan New Mexico yang masing-masing akan membangkitkan lebih dari satu gigawatt daya listrik. Turbin bertenaga angin lepas pantai dan teknologi transmisi dayanya sudah dipilih untuk digunakan di berbagai proyek di North Sea dan lepas pantai East Coast, Amerika Serikat. Di Eropa, Australia dan sejumlah negara lainnya, GE Renewable Energy tengah mengembangkan tenaga air sebagai alternatif pembangkit listrik rendah karbon untuk masa depan yang digerakkan oleh energi terbarukan. Di Asia, GE tengah berupaya untuk mengganti generator bertenaga batu bara dengan turbin terbarunya yang menggunakan gas alam, yang dapat mengurangi emisi karbon sebesar 60% daripada pembangkit bertenaga batu bara. Dan justru karena matahari tidak selalu bersinar, begitu pula dengan angin yang tidak selalu bertiup, GE juga berupaya mengombinasikan penyimpanan tenaga listrik dengan energi terbarukan, dan membuat energi angin dan matahari selalu tersedia bila dibutuhkan. Satu proyek seperti itu diusulkan untuk dibangun di bagian utara New York.

Mempersiapkan masa depan energi akan menjadi suatu upaya kelompok, dan GE memiliki ratusan insinyur untuk itu. GE terlibat dalam sejumlah proyek terbaru di bawah ini yang bertujuan menurunkan emisi karbon dunia.

Tubin angin lepas pantai Haliade-X dirancang untuk bertumbuh kembang bersama dengan pasar, dan itulah yang terjadi. Model awalnya menghasilkan 12 megawatt – dan bahkan pada tingkat itu, satu rotasi dari bilah turbinnya dapat menghasilkan tenaga listrik yang sama besarnya untuk memasok satu rumah di Inggris selama dua hari. Namun, ketika para insinyur menguji prototipe Haliade-X, mereka mendapati bahwa turbin itu dapat dioptimalkan untuk menghasilkan 13 MW. Sekarang, sudah ada versi yang bahkan jauh lebih kuat dan menghasilkan 14 MW. Nah, versi itulah yang baru saja dipilih untuk Dogger Bank C, yakni tahap ketiga pada ladang angin Dogger Bank di Inggris. (Di versi yang menghasilkan 13 MW, Haliade-X sudah dipilih untuk digunakan di dua fase awal dari proyek tersebut.) Bila selesai di tahun 2026, Dogger Bank C diharapkan akan menjadi instalasi ladang angin lepas pantai terbesar di dunia. 

Menjadi pemimpin: “Proyek ini akan terus memperkuat kepemimpinan Inggris di ladang angin lepas pantai, sekaligus menjadi contoh dari teknologi inovatif yang membantu memasok energi yang lebih bersih dan terbarukan,” kata John Lavelle, president and CEO Offshore Wind di GE Renewable Energy. Tapi Inggris bukan satu-satunya negara yang tengah mentransformasikan sektor energinya dan semakin banyak menggunakan tenaga angin. (Di bulan Desember, angin menghasilkan 40% listrik di Inggris, suatu rekor baru.) Vineyard Wind, ladang angin berkapasitas 800 MW di lepas pantai Massachusetts, mengumumkan pada Desember lalu bahwa proyek itu telah memilih GE Renewable Energy sebagai pemasok turbin pilihan.

Gambar atas: Satu bilah pada Haliade-X berukuran 107 meter panjangnya. Kredit foto: GE Renewable Energy.